Selasa, 16 Oktober 2018

US.16/10/18
*اللهُم  َّصلِّ  علٰى  سَيِّدنا  مُحَمّدٍ  عبدِكَ  وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ*
                  
*SEGALANYA GELAP*
الكونُ كلُّهُ ظُلْمةٌ وإِنَّما أَنارَهُ ظُهورُ الحقِّ فيهِ.
فَمَنْ رَأى الكَوْنَ وَلَمْ يَشْهَدْهُ فيهِ أَوْ عِنْدَهُ أَوْ قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَه فَقَدْ أَعْوَزَهُ وُجودُ الأَنْوارِ.
وَحُجِبَتْ عَنْهُ شُموسُ المَعارِفِ بِسُحُبِ الآثارِ.


Segala keberadaan itu gelap, kalau pun keberdaaan itu terang terlihat
itu semua lantaran Allah Tampil dalam keberadaan.
Maka siapa pun yang melihat al-kaun, tapi tidak menyaksikan Allah
di dalam atau bersamanya, sebelum atau sesudahnya,
maka dirinya sangat butuh cahaya, dan betapa dirinya 
terhijab oleh surya makrifat melalui
awan benda-benda alam.


*PEMBAHASAN*
Bismillah. Entah apa yang dapat dibayangkan jika Allah tidak Menciptakan Imajinasi untuk kita. Entah dengan apa manusia dapat memahami banyak hal tanpa satu alam yang bernama alam imajinasi atau alam khayal. Ketika seorang bocah tak paham bagaimana maksud kalimat matematika satu ditambah tiga, kita pun mengajak si anak untuk berimajinasi tentang satu apel ditambahkan dengan tiga apel. Penambahan akan tergambar pada diri si anak ketika imajinasi apel disampaikan. Padahal ketika itu, tidak ada apel di depan mata. Tak ada apel yang digenggam. Tapi saat itu, ada jembatan (washilah) yang menghubungkan kesadaran kita kepada si anak, yaitu imajinasi.
Bahkan Al-Quran begitu banyak menghadirkan perumpamaan. Semua itu tak lain agar pembaca yang tak dapat memahami ekspresi penyingkapan (mukasyafah) ayat langsung, mesti merambat melalui imajinasi. Ya, imajinasi memang satu alam ciptaan Allah, yang memungkin kita dapat mengerahkan sisi lain dari diri kita selain akal. Lewat alam khoyal atau imajinasi, kita dapat membayangkan kesedihan orang lain yang kemudian memunculkan simpati dan empati; lewat alam khoyal atau imajinasi, kita dapat memahami dan merasakan makna-makna emosi seperti sedih, luka, takut, hingga bahagia. Tapi, sebagai alam, imajinasi hanyalah wasilah atau piranti. Imajinasi hanyalah media atau perantara untuk mengantarkan. Imajinasi sama sekali bukan tujuan (ghoyah) dalam kesadaran seorang hamba terlebih seorang pejalan. Ketika seorang pejalan menemukan sebuah ayat yang berisi perlambang (metafor), hadits-hadits yang berisi perumpamaan, hingga syair atau kalam hikmah yang berisi ungkapan imajinatif, sudah seharusnya tidak tenggelam pada ungkapan-ungkapan itu. Kita mesti menembus sebagaimana disebutkan _Fa'tabiru ya ulil-albaab_ "Tembuslah wahai yang punya Albab." *Albab* adalah jamak dari *Lubb* sedangkan Lubb adalah sisi terdalam dari Qalbu.
Pada pembahasan Hikam kali ini, Syekh Ibnu Athaillah mengajak kita untuk masuk ke dalam alam imajinasi. Kelak, di sejumlah pembahasan berikutnya, Syekh Atho akan sering menggunakan idiom imajinasi demi menghantarkan pemahaman dan kesadaran kita. Mari kita simak dengan penuh imajinasi.

*Pertama*
الكونُ كلُّهُ ظُلْمةٌ وإِنَّما أَنارَهُ ظُهورُ الحقِّ فيهِ.
_Segala keberadaan itu gelap, kalau pun keberdaaan itu terang terlihat itu semua lantaran Allah Tampil dalam keberadaan._

Ketika kedua mata kita dapat melihat, mungkin kita berasumsi bahwa kedua mata inilah yang punya kemampuan untuk melihat. Tapi ketika kita masuk ke dalam sebuah kamar yang sangat gelap, tanpa cahaya secuilpun, sebesar apapun mata kita buka, ternyata kita tidak dapat melihat. Hal ini membuktikan, kemampuan kita melihat bukan karena kondisi mata kita yang mampu melihat, tapi kita melihat segala apa di sekitar kita adalah karena adanya cahaya. Dengan kata lain, sang cahaya-lah yang menjadikan mata kita dapat berfungsi untuk melihat.
Bayangkan bumi ini tanpa matahari, tanpa listrik, lampu, tanpa api. Sehingga setiap waktu yang ada di bumi ini adalah gelap dan gelap. Jika itu yang terjadi, tentu dapat dibayangkan betapa kita sama sekali tidak dapat melihat apapun.
Dalam kalimat hikmah kali ini, Syekh Athoillah memulai dengan kalimat,
الكونُ كلُّهُ ظُلْمةٌ.
Diksi atau pilihan kata yang digunakan adalah keberadaan ( الكونُ ),
bukan (الوجود) al Wujud,
yang sama-sama artinya keberadaan. Untuk al-Kaun, meski bermakna keberadaan, tapi yang dimaksud adalah *yang-diadakan*, dengan kata lain, al-kaun ini adalah seluruh makhluk. Sementara Al-Wujud yang juga bermakna Keberadaan, diksi ini kembali kepada Kebaradaan Mutlak yang mustahil membutuhkan terhadap keberadaan lain. Dengan demikian, kalimat pembuka di atas dapat kita artikan, "Seluruh makhluk itu gelap."
Kemudian diksi dzulmah (ظُلْمةٌ)
yang bermakna gelap.
Lagi-lagi ini juga metafora. Gelap di sini bukan semata gelap sebagaimana kita tak dapat melihat ruang atau kenyataan di sekitar kita. Dzulmah atau kedzaliman dalam makna tasawuf adalah kebodohan. Dan lebih jauh lagi, kedzaliman itu bermakna ketiadaan keadilan. Dzulmah dalam pengertian kebodohan adalah ketika manusia tidak menyadari Sang Pencipta. Kasus ini tampak jelas dalam peristiwa kaum Kafir Quriasy yang oleh Sang Nabi telah dibawa dari kebodohan (dzulumat) kepada cahaya (al-nur).  Dari sini dzulmah dapat bermakna:
1. Kebodohan; yakni ketika manusia tak menyadari adanya Tuhan
2. Ketidakadilan; yakni ketika hamba tak menempatkan aku-nya kepada Aku yang Sebenarnya.
Maka jika kita gabungkan dengan kalimat sebelumnya, makna yang dapat kita peroleh adalah, "Siapa pun sesungguhnya dalam kebodohan ruhaniah." Atau, "Setiap hamba sebenarnya dzolim."

Selanjutnya kalimat,
وإِنَّما أَنارَهُ ظُهورُ الحقِّ فيهِ
Pada kalimat ini dinyatakan bahwa, apapun yang gelap tadi kemudian dapat terlihat, itu lantaran Al-Haq yang Tampil di dalam kegelapan itu. Dalam pengertian lain, siapa pun sesungguhnya bodoh. Kalau pun ia dapat memahami itu tak lain karena Al-Haq Hadir dalam pengetahuan. Dan dalam ungkapan lain, setiap hamba secara hakiki tidak dapat menempatkan dirinya pada tempatnya, kalau pun dirinya SADAR menempatkan diri pada Diri-Nya, tidak lain adalah karena Al-Haq adalah

Kesadaran itu sendiri.
Mari kita lanjutkan renungan kita lebih jauh. Jika kita sadari, kenyataannya saat ini bumi begitu terang. Benda-benda di sekitar kita dapat terlihat. Di sini kita sudah mafhum bahwa hal Ini disebabkan adanya Matahari. Tapi, untuk kasus bumi dan matahari ini masih berjarak. Bumi beredar pada orbit tertentu, sebagaimana matahari juga beredar pada orbitnya sendiri. Dalam hal ini, yang dikehendaki oleh Syekh Ibnu Athaillah itu bukan bagaimana kita menyadari penglihatan lahiriah semata sebagaimana adanya cahaya matahari yang menerangi bumi. Tapi ini mengeni kesadaran dan kenyataan sang diri. Bahwa siapa pun kita, sebenarnya tidak ada sama sekali. Kalau pun kita "ada", sesungguhnya tak lain karena ADA-Allah.

Jika secara hakikat segalanya menjadi "ada" karena "Ada-Nya" maka sebenarnya yang saat ini Tampil, adalah Dia. Dan jika saat ini yang Tampil hanyalah Dia, maka sejatinya tidak ada kegelapan sama sekali. Artinya saat ini, yang ada adalah Cahaya-Nya. Dengan demikian, segala hal yang ada disekitar kita asal mulanya adalah cahaya. Bumi adalah cahaya. Matahari dan Bulan juga nur. Aneka ragam warna pada benda yang terlihat di sekeliling kita juga sebenarnya nur yang sedang membungkus materi. Nur-nur itu mengalir begitu lathif (halus) di setiap sendi, setiap syaraf, setiap pikiran, bahkan imajinasi. Karena saking lembut-Nya seakan diri kita merasa mampu "ada" bahkan merasa mampu "merasakan" segalanya.

Perkenankan Kuncen sampaikan sebuah kisah. Kisah ini dialami Syekh Imam Fakhruddin ar-Razi seorang ulama terkenal yang mengarang banyak kitab salah satunya Tafsir Ar-Razi yang terkenal itu. Suatu ketika, seorang nenek melihat kerumanan orang yang menyemut dan mengerumuni seseorang. Seseorang itu adalah Imam Ar-Razi. Si nenek itu kemudian bertanya kepada seseorang, “Siapa dia?” Orang yang ditanya menjawab dengan mantap kepada si nenek, “Beliau adalah Imam Fakhruddin ar-Razi. Seorang ulama besar yang karangannya memuat banyak sekali hujjah ilmiah tentang Wujud Allah dan Wahdaniyatullah (Keesaan Allah)!” Mendengar jawaban itu si nenek berkata, “Andai tak dilanda seratus keraguan dihati, tentu kita tak butuh seratus hujjah". Setelah berkata demikian, si nenek pun berlalu. Ternyata kata-kata si nenek tadi disampaikan kepada ar-Razi. Apa respon Ar-Razi? Sang Imam menangis dan berkata, “Ya Allah, anugerahkan kepada hamba keimanan seperti keimanan orang-orang awam.”

Apa konteks kisah ar-Razi dengan penjelasan hikam kali ini? Disini, Imam Ar-Razi bukan hamba yang menolak ilmu. Tapi beliau kemudian malah khawatir ilmu yang dimiliki justru hanya akan mengekang akalnya. Ia khawatir bila kecerdasan akal hanya akan mengikat hatinya. Bila ini terjadi ia sadar dirinya tak akan mencapai kebenaran hakiki. Artinya, untuk persoalan kesadaran, keimanan, dan kepasrahan, kecerdasan akal saja tak cukup, bahkan tak diperlukan sama sekali. Kepasrahan hamba tidak selalu berangkat dari kecerdasan intelektual, karena yang berlangsung dalam hal ini adalah di dalam hati, bukan di dalam akal.
Maka tak heran, seorang 'alim yang bernama Syekh al-Bhuti menyatakan, bahwa siapa pun yang tengah melakukan suluk kepada Allah, maka terus dan teruslah berjalan. Teroboslah terus lorong-lorong sempit juga tikungan-tikungan yang sering menipu. Jangan pernah berhenti hanya karena sudah mendapatkan apapun. Terus dan teruslah berjalan. Jangan sekali-kali coba berhenti meskipun telah "merasa" sampai. Karena wilayah sampai (wushul) itu tidak wilayah yang tidak ada lagi merasa. Jangankan merasa, ada aku pun tidak ada.

*Kedua*
فَمَنْ رَأى الكَوْنَ وَلَمْ يَشْهَدْهُ فيهِ أَوْ عِنْدَهُ أَوْ قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَه فَقَدْ أَعْوَزَهُ وُجودُ الأَنْوارِ.
وَحُجِبَتْ عَنْهُ شُموسُ المَعارِفِ بِسُحُبِ الآثارِ.
_Maka siapa pun yang melihat al-kaun, tapi tidak menyaksikan Allah di dalam atau bersamanya, sebelum atau sesudahnya, maka dirinya sangat butuh cahaya, dan betapa dirinya terhijab oleh surya makrifat melalui awan benda-benda alam._

Mengutip penjelasan Syaikh Fadhlala Haeri dalam syarahnya, "Meskipun seluruh alam ini diciptakan dari nur ilahi, tetapi semua wujudnya tampil sebagai cahaya dan bayang-bayang, baik dan buruk, siang dan malam. Jika seorang pencari spiritual tidak melihat Allah yang memancarkan Nur-Nya di balik semua ini, berarti ia sedang diliputi kebingungan terhadap permainan bayang-bayang keberadaan dan awan-awan kenyatan yang selalu berubah-ubah. Penciptaan manusia mempunyai makna dan tujuannya sendiri, yang berasal dari nur azali, yakni sebab yang selalu ada di balik perubahan-perubahan penampakan duniawi yang tampak.
Pada kalimat lanjutan yang disampaikan Syekh Ibnu Athaillah ini, kita diberikan pemahaman praktis. Karena pada hakikatnya segala sesuatu itu terlihat karena Allah yang Tampil, maka siapa pun kita saat melihat, merasakan, hingga beraktivitas sudah seharusnya menyadari itu semua tidak lain karena Allah Yang MenampilkanNya. Jika tidak, maka kita sesungguhnya masih terhijab oleh bayang-bayang cahaya-Nya.

Mari kita renungkan bersama. Misalnya kita punya sahabat atau pasangan hidup. Selama ini kita merasa sudah memberikan segalanya. Sudah memberikan kesetiaan bahkan pengorbanan kepada sahabat kita. Tiba-tiba tanpa sebab sahabat kita ini menyakiti kita. Ia berbuat sesuatu yang membuat kita kecewa, sakit, dan bersedih. Rasa sedih akan terus datang menyergap karena kita merasa bahwa diri kita lah yang merasakan kesedihan. Dalam situasi seperti ini sejatinya kita lupa. Bahwa secara hakiki, jangan kan rasa sedih, rasa bahagia, atau rasa apapun yang ada dalam diri kita, bahkan diri kita ini sebenarnya tidak ada. Tapi kenapa rasa aku itu terasa seperti ada? Ya tentu saja karena AdaNya Dia Yang Tampil. Dengan demikian, sebenarnya aku-nya kita yang selama ini "dianggap" ada itu sama sekali bukan milik kita, tapi Milik Allah. Tapi anehnya, kita begitu sedih dan terlena. Kenapa? Karena akunya kita dianggap milik kita.

Lalu apa sebenarnya yang terjadi? Hakikatnya, segalanya adalah Milik Allah yang dititipkan atau ditampilkan Allah. Maka segala rasa apapun yang hadir pun sejatinya Milik-Nya. Maka aneh ketika ada seseorang yang merasa dirinya punya sedih. Dirinya punya sakit. Dirinya punya kecewa. Kalau pun ada rasa sakit yang ada di hati, itu pun MilikNya. Jika kita menyadari bahwa rasa apapun adalah Milik-Nya, maka ketika rasa sedih dan rasa sakit itu menghampiri hati, sebagai seorang hamba sudah seharusnya ridho menerima. *"Duh Gusti, rasa di hati ini memang terasa begitu sakit, Gusti. Tapi rasa ini Sejatinya adalah Milik-Mu bahkan Diri-Mu. Maka ajari Hamba untuk Ridho menerima Kehadiran-Mu dalam tampilan rasa sakit ini, Gusti…Hamba bersedia, Gusti."*
Itulah penjelasan sederhana dari Kuncen tentang bagaimana menyadari Kehadiran-Nya di dalam atau bersamanya, sebelum atau sesudahnya.

*Wallahua'lam*
Kuncen | UmahSuwung
@abdullahwong

0 komentar:

Posting Komentar

BERSYUKURLAH KEPADA SUAMI karena ALLOH,,,,,,,,,,,,,,,,

 o0o_بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم_ oOo BAHAGIA itu,,, sangat SEDERHANA (31) oOo السلام عليكم ورحمة الله وبركاته oO...