Jumat, 23 November 2018

US.23/11/18

اللهُم  َّصلِّ  علٰى  سَيِّدنا  مُحَمّدٍ  عبدِكَ  وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ


                 🅐🅛 🅗🅘🅚🅐🅜


BASI DAN BUSUK


إِحالَتُكَ الأَعْمالَ عَلَى وٌجودِ الفَراغِ مِنْ رُعُوناتِ النَفْسِ.

Sikapmu menunda amal sampai terjadinya waktu senggang, adalah bukti nyata kebodohan jiwa.


PEMBAHASAN
Dalam pembahasan lalu, Syekh Athoillah menegaskan bahwa orang yang menghendaki sesuatu terjadi pada waktu yang bukan waktu sebagaimana Dikehendaki Allah untuk terjadi dalam waktu itu, sebagai suatu ketololan. Kali ini, Syekh Ibnu Athaillah menyebutkan kembali sikap bodoh yang lain. Yakni sikap yang dipraktikan oleh siapa pun yang menganggap bahwa kesempatan mengerjakan amaliyah itu hanya tepat ketika situasi dan kondisi dianggap memungkinkan. Mari kita renungkan.


Pada pembahasan sebelumnya ditegaskan bahwa kekinian, atau hari ini adalah kesempurnaan. Segala nikmat dan anugerah senantiasa Allah Cukupkan kepada kita, bahkan Allah Sempurnakan. Maka, kesempurnaan itu bukan besok, bukan pula kemarin. Tapi saat ini senantiasa sempurna. Kesempurnaan bukan sesuatu yang mesti ditunggu-tunggu. Bukan pula sesuatu yang diratapi karena dianggap sudah berlalu. Setiap hal, setiap kondisi, hakikatnya adalah sempurna. Hanya saja, sang hamba yang mereduksi dan memelintir menjadi satu suasana atau kondisi yang dianggap sebagai kurang dan tidak sempurna.


Kembali kepada kalam Hikmah Syekh Ibnu Athaillah, bahwa ungkapan “amal perbuatan” yang dimaksud di sini, bahkan di semua pembahasan al-Hikam berikutnya, adalah meliputi seluruh ragam aktivitas manusia yang orientasinya hanya kepada Allah. Ini yang oleh sejumlah para pensyarah disebut sebagai amal sholeh.


Syekh al-Buthi, salah seorang tokoh tasawuf yang memberikan syarah, dalam konteks ini memberikan beberapa contoh. Meski dengan spirit yang sama, al-Faqir coba hadirkan dalam pilihan redaksi yang berbeda melalui deretan pointer sebagaimana berikut:
1. Saya akan sedekah kalau nanti ketika saya sudah kaya; padahal masih banyak amal lain yang bisa kerjakan. Dan untuk sedekah, tak perlu menunggu kaya. Karena apapun dapat dilakukan dan dapat bernilai sedekah;
2. Saya akan rajin sholat Sunnah kalau sudah diterima jadi karyawan. Begitu jadi karyawan, kita berjanji lagi akan rajin sholat Sunnah kalau sudah jadi manajer. Sementara kalau menjadi manajer tentu lebih sibuk dibanding karyawan. Bahkan dirinya pun kemudian berencana untuk rajin sholat Sunnah saat nanti menjadi direktur. Akhirnya, sampai pensiun pun, rencana hanya tinggal rencana, karena sakit dan kelemahan fisik semakin menjadi-jadi;
3. Saya akan silaturahmi kepada seseorang yang pernah saya sakiti, nanti saja kalau sudah kondisi saya memungkinkan. 
4. Saya akan membantu kalau…
5. Saya akan menabung untuk haji kalau…
6. Saya akan menyumbang pesantren kalau….
7. Saya akan bertaubat nasuha kalau…

Semua yang kita lakukan serba kalau dan nanti. Kalau senggang dan kalau luang. Kata orang Betawi, "Tarsok-tarsok, entar besok-entar besok." Sampai-sampai, karena biasa menunda shalat, akhirnya berhasil juga ketika ia dishalati. Sikap semacam ini, oleh Syekh Ibn Athaillah disebut, “Menunda-nunda amal untuk menunggu kesempatan luang, merupakan tanda kerasnya hati”.

Allah Berfirman dalam Surat Al-Anfal ayat 24:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu terhadap suatu sikap yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan."


Memenuhi seruan Allah agar kita tunduk patuh dan menyerah kepada-Nya melalui amal-amal di segala dimensinya adalah multak. Harga mati! Sementara hal lain, tak perlu dipusingkan apalagi dikhawatirkan. Apalagi kalau sampai khawatir akan kehilangan rizki, kehilangan kehidupan. Yakinlah bahwa Allah senantiasa menjamin kehidupan dan penghidupan seluruh makhluk-Nya seluas dan selebar-lebarnya. Karena semua sudah dijamin Allah, maka jangan coba-coba kita mengotori ibadah kita dengan berharap apapun yang sudah jelas dijamin Allah.

Para pejalan, kita pun mesti sadar; jangan pernah coba memutar-mutar posisi atau makom-makom yang sudah Allah gariskan. Wilayah bisnis hanya dianggap sebagai wilayah dunia saja; sedangkan peribadatan mahdoh, hanya dianggap sebagai wilayah ukhrowi saja. Keduanya jelas sama-sama ladang yang Allah hadirkan untuk kita, agar kita tanami dengan pengabdian demi pengabdian. Maka jangan coba-coba membedakan perintah-perintah Allah dengan aktivitas duniawi, sebab itu akan buat kita merugi dikemudian hari. Bekerja keras adalah perintah; dan bekerja juga ibadah. Bekerja itu laksana seorang hamba yang sedang menyambut dan mensyukuri limpahan anugerah dari Allah. Sedangkan orang yang ongkang-ongkang tak mau usaha adalah diri yang tidak mau menyambut dan mensyukuri anugerah Allah.


Para Salik, pada pembahasan sebelumnya, kita menyinggung Surat Al-Maidah ayat 3, bahwa sudah seharusnya setiap hamba Allah itu senantiasa bersedia hadir dalam kekinian. Bukan manusia masa lalu yang pernah sedih atau manusia masa nanti yang khawatir. Kelekatan kita kepada masa lalu hanya membuat perasaan kita menjadi basi. Sedangkan kemelekatan kita kepada apa yang akan terjadi hanya akan menimbulkan andai-andai dan angan-angan semu. Untuk itu, seorang yang masih repot dengan masa lalu dan masa nanti, dipastikan akan selalu repot menjalani kehidupan.


Kali ini, Syekh Ibnu Athaillah menegaskan bahwa "Sikap menunda amal untuk nanti dikerjakan bila waktu senggang, adalah bukti kebodohan jiwa." Kenapa kita sering berpikir untuk menunda? Tentu saja karena kita belum terbebas dari diri kita sendiri. Selama ini, kita adalah manusia yang telah "terprogram" untuk memahami dan menjadi sesuatu. Selama itu berlangsung, kita tak pernah hadir secara aktual. Di mana pun dan kapan pun, dipastikan kita akan selalu hadir bersama konsep-konsep yang melekat yang berhasil terprogram di dalam diri kita. Selama itu berlangsung, maka kita adalah diri yang basi bahkan busuk dan terus membusuk!


Ketika kita berkunjung ke sahabat kita, begitu kita tiba di rumahnya, tentu kita akan hadir beserta konsep masa lalu kita tentang sahabat kita, atau konsep tentang harapan masa datang tentang kita dan juga sahabat kita. Cobalah renungkan, kenapa Rasulullah tidak marah kepada orang yang telah meludahinya bahkan menyiram kotoran kepadanya? Kenapa? Karena apa yang baru saja terjadi, ketika itu, adalah masa lalu. Sang Nabi seketika itu juga hadir dalam kekinian. Nabi tidak akan menghakimi seorang tersebut dengan masa lalunya, yakni masa lalu berupa meludahi Nabi. Itu masa lalu. Itu sudah basi. Nabi senantiasa hadir secara aktual (tajally). Nabi hadir bukan dengan kumpulan premis-premis yang disusun dari masa lalu kemudian dijadikan kesimpulan. Saat itu, ketika itu, yang dihadapi Sang Nabi adalah manusia. Bahkan ketika Sang Nabi mendengar sosok tersebut sakit, sekali lagi Nabi tidak menyusun premis-premis masa lalu entah berupa kesalahan atau luka-luka. Jika Nabi menyusun premis-premis, maka yang terjadi adalah kesimpulan (kongklusi). Tapi Nabi hadir aktual dalam kekinian. Itulah kesempurnaan.


Kenapa manusia lebih cenderung menunda untuk berbuat baik? Ini lantaran akumulasi konsep yang meyakini bahwa kita akan masih punya banyak kesempatan, sebagaimana kemarin-kemarin kita punya banyak kesempatan. Artinya, kehidupan kita saat ini, masih dilekati konsep masa lalu. Untuk hidup dan hadir saat ini, kita tak butuh konsep apapun. Kita hanya perlu sadari bahwa saat ini nyata dan ada. Karena saat ini nyata adanya, lalu untuk apa kita? Tentu masing-masing kita akan mencari-cari sejumlah jawaban, "apa sih yang harus kita lakukan?" Dan anehnya, jawaban itu selalu dicari dengan pengalaman di masa lalu. Kita lupa bahwa kita sedang berada dalam kekinian. Dan tentu saja mustahil bagi kita untuk kembali ke masa lalu, atau segera melompat ke masa depan, kecuali kita keluar dari semua ruang-waktu, dengan kata lain kita tenggelam dalam asal-usul ruang-waktu.


Mari kita amati ungkapan Nabi, "Bekerjalah seakan engkau hidup selamanya, dan ibadahlah seakan engkau mati esok." Komposisi hadits ini bagi Al-Faqir adalah jelas ditujukan untuk kaum awam yang masih belum mengerti hakikat kekinian. Hadits ini oleh Nabi memang ditujukan untuk memberikan motivasi belaka. Karena di dalam Alquran sendiri muncul pernyataan yang lebih tegas dan sangat bertentangan dengan hadits tadi, yakni Al-Quran Surat Ad-Duha ayat 4, 

وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ
"Dan akhirat lebih utama bagimu dari dunia."

Hadits di atas, jika dicermati dapat memberikan makna bahwa kehidupan itu mesti dibelah. Kehidupan ukhrawi sendiri; dan kehidupan duniawi itu juga sendiri. Ini jelas pula sekular! Hadits di atas hanya sedang memberikan motivasi kepada anak-anak remaja yang masih gamang dalam menjalani kehidupan. Tapi bagi yang menyadari bahwa seluruh desah napas adalah pengabdian kepada Allah, tentu tak melakukan pengotakan. Karena, seluruh kehidupan akhirat dan dunia itu mesti diselenggarakan saat ini, melalui segenap pengabdian. Itulah kenapa Mahatma Gandhi pernah berujar, "Hiduplah seakan engkau meninggal esok, dan belajarlah seakan engkau hidup selamanya."


Sikap menunda melakukan kemanfaatan kepada sesama misalnya, sebenarnya dilatari oleh asumsi (dzan) bahkan gagal paham (wahm) mengenai sebab-akibat. Padahal sebab akibat itu tak mengenal akhir, karena si akibat kemudian menjadi sebab lalu sebab tadi melahirkan akibat lebih banyak lagi, lagi dan lagi dan seterusnya. Selama amal yang dilakukan dilatari oleh sebab, dipastikan amal itu punya motif; karena tindakan itu merupakan akibat. Bayangkan jika semua amaliyah kita hadir lantaran ragam hubungan sebab, apapun itu. Sebab pahala, sebab siksa, sebab surga, sebab keberkahan, dan sebab-sebab seterusnya. Selama itu terjadi, maka semua amaliyah kita dinodai oleh motif. Padahal ikhlas yang merujuk kepada Tauhid, adalah satu laku yang di dalamnya tidak ada motif apapun. Tentang hal ini, lihat saja Surat Al-Kahfi ayat 110.


Hanya Rahmat (cinta kasih) yang menjadi satu-satunya hal yang tak bersebab! Rahmat itu bebas! Rahmat adalah keindahan, Rahmat adalah kesungguhan. Rahmat adalah puncak dari kesenian. Dan ketika Rahmat hadir secara aktual dalam laku, ia adalah Ihsan. Dalam dunia teater, WS. Rendra menyebut bahwa aktor sebenarnya adalah aktor yang tampil (aktual) dalam gerak naluri. Bagi Rendra, teknik drama itu dipelajari justru untuk dilupakan. Sehingga ketika tampil di panggung tidak terlihat teknis-mekanis. Ujaran Rendra ini juga dapat kita temui dalam tradisi seni pencak silat di negeri kita. Semua teknis latihan jurus-jurus, hanya untuk mengondisikan agar tubuh kita peka dan sensitif. Tapi dalam pertarungan sebenarnya, kita harus hadir secara aktual. Kini kita mengerti, kenapa Sayyidina Ali tiba-tiba menyarungkan pedangnya saat duel satu lawan satu sebelum perang terjadi. Karena saat itu Sang Gerbang Ilmu itu dilanda kemarahan. Kemarahan jelas bukan kehadiran aktual. Kemarahan adalah kesimpulan atas sejumlah premis masa lalu. Itu kenapa Ayah Hasan Husein mengurungkan pertarungan. 


Sekali dalam drama, Itulah gerak naluri. Gerak naluri merupakan gerak yang muncul bukan karena satu motif atau indikasi tertentu. Karena, gerakan yang muncul lantaran sebab, atau harapan akan adanya akibat, dipastikan menjadi gerakan artifisial! Palsu! Jika di dalam teater saja dikenalkan tentang gerak-gerik (action) yang bukan pura-pura (artifisial), kenapa dalam mengabdi kepada Allah kita masih pura-pura? Apa buktinya pura-pura alias tidak aktual? Tentu saja karena masih dilatari oleh sebab atau motif.

Kenapa ketika membincang teladan atau uswah, kita merujuk kepada Sang Nabi? Karena Sang Nabi melakukan semua sunnahnya secara aktual (Ihsan), tanpa motif apapun. Untuk itu, Ihsan itu tidak bisa ditiru. Tapi mesti ditampilkan. Siapa yang dapat menampilkan? Tentu saja "aku" yang telah selesai menempatkan aku-nya kepada AKU yang sebenarnya.


Dalam hal ini, Kesadaran (Dzikir) adalah kemahiran dalam bertindak (beramal). Tapi, tanpa cinta kasih, kemahiran dzikir tak pernah ada, atau tak pernah dianggap ada. Apabila seorang pejalan sedang melakoni suluk, dan di situ tidak ada si “aku“; tapi yang ada hanya cinta kasih dan keindahan, maka ia pun wushul. Inilah kemahiran beramal (mushin). Kealiman dalam bertindak adalah keadaan tanpa si “aku“. Dan ahli dzikir adalah tidak hadirnya si “aku“, kecuali Aku-Nya Allah. Ketidak-hadiran si “aku” dalam kehidupan, berarti Cinta Kasih dalam Ihsan yang senantiasa aktual. Ihsan mustahil tanpa Cinta. Sebagaimana Ihsan yang tak terikat apapun, begitu pula Cinta. Inilah Ihsan, puncak dari Iman dan Islam dalam kehidupan kehambaan.



Wallahua'lam



Kuncen | UmahSuwung
@abdullahwong

0 komentar:

Posting Komentar

BERSYUKURLAH KEPADA SUAMI karena ALLOH,,,,,,,,,,,,,,,,

 o0o_بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم_ oOo BAHAGIA itu,,, sangat SEDERHANA (31) oOo السلام عليكم ورحمة الله وبركاته oO...