US.16/11/18
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
🅐🅛 🅗🅘🅚🅐🅜
TERLALU BODOH
ما تَرَكَ مِنَ الجَهْلِ شَيْئاً مَنْ أَرادَ أَنْ يَحْدُثَ في الوَقْتِ غَيْرُ ما أَظْهَرَهُ اللهُ فيِهِ.
Sangatlah tolol orang yang menginginkan terjadinya suatu di luar waktu yang dikehendaki oleh Allah.
PEMBAHASAN
Dalam pembahasan lalu, Syekh Athoillah mengajukan sepuluh pertanyaan untuk direnungkan secara mendalam. Sepuluh pertanyaan itu ditujukan agar setiap pejalan menyadari betapa Allah Maha Mutlak. Salah satu pertanyaan itu, yakni pada pertanyaan terakhir, Syekh bertanya:
يا عَجَباً كَيْفَ يَظْهَرُ الوُجودُ في العَدَمِ! أَمْ كَيْفَ يَثْبُتُ الحادِثُ مَعَ مَنْ لَهُ وَصْفُ القِدَمِ!
Sungguh terlalu mengherankan! Bagaimana mungkin Keberadaan sesuatu yang Pasti Ada kok bisa terhalang sesuatu yang ‘tidak ada’? Atau, bagaimana bisa sesuatu yang baru (al-hadits) dapat bersama dengan Zat yang memiliki sifat Qidam (tidak berpermulaan)?
Satu hal yang mesti diinsyafi oleh setiap hamba adalah satu kenyataan bahwa Ruang-Waktu hanyalah Ciptaan Allah. Al-Faqir menulis ruangwaktu, karena bagi Al-Faqir ruangwaktu itu padu, utuh, tak dapat terpisahkan. Ruang tak mungkin tampil tanpa waktu, sebagaimana waktu tak mungkin hadir tanpa ruang. Apalagi, ruang waktu itu adalah anak kembar dari Ada dan keberadaan. Ketika seorang menyebut, "meja," misalnya. Ia sebenarnya sedang menyebut ada meja, atau keberadaan meja. Ketika menyebut ada meja, meski tidak ditanyakan, tapi tetap berlangsung di dalamnya satu konsep tentang dimana (where) si meja, dan kapan (when) si meja itu. Dengan kata lain, ruang-waktu sesungguhnya tak ada beda dalam kesadaran. Itulah kenapa Tashrif di dalam Ilmu Shorof, izim zaman (waktu) dan isim makan (ruang) itu memiliki bentuk wazan atau patokan yang sama.
Ruang-Waktu sendiri merupakan Tajalli Allah dalam Mengguratkan Takdir-takdir-Nya. Maka, sebagaimana kita dilarang untuk mencaci atau mengumpati waktu, kita pun tak pantas untuk mengumpat dan mencaci ruang-waktu. Sekali lagi karena ruang-waktu adalah Kehadiran-Nya. Perlu ditegaskan di sini, bahwa mencela waktu adalah kebiasaan orang-orang musyrik. Mereka menyatakan bahwa yang membinasakan dan mencelakakan mereka hanyalah waktu. Allah mengkritik sikap mereka dalam Firman-Nya:
وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ
"Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak akan ada yang membinasakan kita selain masa (Dahr)“, padahal mereka sama sekali tidak punyai pengetahuan waktu, mereka tidak lain hanya berasumsi saja.” (Al Jatsiyah: 24).
Begitu juga hadits dalam shohih Muslim. Masuk dalam Bab "larangan Mencela Waktu (ad-dahr)". Di antaranya hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ
"Allah ’Azza wa Jalla berfirman, ’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Akulah Sang waktu; Akulah yang Membolak-balikkan malam dan siang.” (HR. Muslim no. 6000)
Dalam lafadz yang lain, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَقُولُ يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ. فَلاَ يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ. فَإِنِّى أَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ لَيْلَهُ وَنَهَارَهُ فَإِذَا شِئْتُ قَبَضْتُهُمَا
”Allah ’Azza wa Jalla berfirman,’Aku disakiti anak Adam. Dia mengatakan "Ya khoybah dahr". Janganlah seseorang di antara kalian mengatakan "Ya khoybah dahr". Karena Aku-lah Sang Waktu. Aku-lah yang Membalikkan malam dan siang. Maka karena Kehendak-Ku, Aku Genggam keduanya.” (HR. Muslim no. 6001)
Jika ruang-waktu selama ini diasumsikan memiliki masa lalu dan nanti, itu tak lain karena keterbatasan aqal manusia semata. Dan Allah Yang Maha Tak Terbatas dengan Segala Kasih Sayang-Nya "Berkenan" dicerapi oleh aqal manusia yang sangat terbatas, yang mengasumsikan ruang-waktu sebagai lalu dan nanti. Padahal, jika sang manusia sungguh-sungguh keluar dari dirinya, bersedia memadamkan semua anasir keakuannya, maka manusia akan menyadari keutuhan dan tak menemukan kontradiksi sama sekali. Kontradiksi itu hanya berlangsung di wilayah aqal. Karena si aqal itu selalu memahami dengan cara melakukan identifikasi, definisi, klasifikasi, kategorisasi, partikularisasi, hingga genus dan premis-premis. Sementara qalbu yang terdalam, hanya menyadari keutuhan.
Lalu bagaimana hati menyadari keutuhan sang Ruang-Waktu?
Ketika aqal selalu bekerja dengan perlawanan, seperti jauh-dekat, tinggi-rendah, berat-ringan, maka terhadap waktu pun aqal memahaminya sebagai masa lalu yang kontradiktif atau berlawanan dengan masa datang. Maka hanya sekarang lah yang dapat memadukan lalu dan nanti. Sekarang tak punya lawan kata. Sekarang, tidak sedang berlawanan dengan masa lalu, tidak pula sedang berlawanan dengan masa nanti. Bahkan lalu dan nanti hanya bisa disadari dalam kekinian atau sekarang.
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
Jika kita merujuk kepada Surat Al-Maidah ayat 3 di atas, yang disampaikan Nabi usai haji Wada' kita menemukan diksi "alyauma" yang artinya hari ini (today). Secara lengkap ayat di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut, "Hari ini Sungguh telah Aku sempurnakan bagi kalian semua jalan kalian; dan Hari ini telah Aku Cukupkan bagi kalian Nikmat-Ku; dan Hari ini Aku Ridho kepada Kalian Keberserahan menjadi Jalan."
Terhadap ayat tersebut mungkin si aqal akan berasumsi bahwa "Alyauma" adalah hari itu pada saat Nabi menyampaikan Firman Allah. Padahal, diksi Alyauma jelas-jelas bermakna Pada Hari ini. Maka jika kita amati ada tiga prinsip KEKINIAN yang dimaksud di dalam ayat itu, yaitu:
1. HARI INI Telah Disempurnakan Jalan bagi kita
2. HARI INI Telah Dicukupkan Nikmat bagi kita
3. HARI INI Telah Diridhai Kepasrahan sebagai jalan kita
Jika kita sungguh-sungguh membaca ayat itu dalam kesadaran kekinian, muncul pertanyaan: adakah yang masih belum sempurna? Adakah yang masih belum cukup? Adakah yang masih tak mau berserah kepada-Nya?
Berangkat dari keutuhan dan kesempurnaan inilah maka sangat relevan ketika kemudian Syekh Ibnu Athaillah menegur sikap hamba yang mempertanyakan waktu. Bahkan Syekh Ibnu Athoillah menyebutnya dengan ungkapan:
ما تَرَكَ مِنَ الجَهْلِ شَيْئاً
"Tidak dapat meninggalkan dari kebodohan," yang sama saja artinya sangat-sangat terlalu bodoh! Siapa yang dimaksud dengan orang yang tolol itu oleh Syekh Ibnu Athaillah? Yaitu:
مَنْ أَرادَ أَنْ يَحْدُثَ في الوَقْتِ غَيْرُ ما أَظْهَرَهُ اللهُ فيِهِ.
"Yaitu orang yang menghendaki sesuatu terjadi pada waktu yang bukan waktu sebagaimana Dikehendaki Allah untuk terjadi dalam waktu itu."
Dalam kehidupan sehari-hari kita tahu, bahwa matahari terbit dan beredar di bumi ketika siang hari. Maka hanya orang tolol saja yang berharap matahari terbit di malam hari. Dalam konteks lain, ketika Allah Menghadirkan suatu peristiwa kepada kita, entah bernama musibah atau ujian, entah sehat atau sakit, itu artinya Kekinian itulah yang Dikehendaki Allah. Dan itulah yang Sempurna. Jika merujuk pada kalam hikmah Syekh Ibnu Athaillah, orang yang berharap agar sesuatu itu segera beregeser, tidak terjadi, disebut sebagai orang tolol.
Lebih jauh lagi jika kita mengamati diri sebagai pejalan Ruhaniah. Seorang pejalan Ruhaniah yang sudah begitu intens melakukan riyadhoh dan mujahadah mungkin sudah tak sabar ingin segera sampai atau wushul kepada Allah. Bahkan lantaran dirinya merasa sudah mengamalkan sejumlah tirakat tertentu dalam waktu tertentu, ia sudah tak sabar untuk segera memiliki daya linuwih atau karomah yang sebenarnya adalah hidangan (al-Maidah) Ruhaniah dari Allah. Tentu saja sikap demikian adalah suatu ketololan! Persis seperti tamu yang berkunjung kepada tetangga dan mengharap aneka hidangan yang sesuai dengan harapan si tamu. Ini bukan hanya tolol tapi juga tak punya adab sama sekali.
Mari kita amati Kekinian
Kesadaran manusia yang hanya bergekayut terhadap pikiran sungguh telah membuat manusia terjebak dalam pemahaman semua alias tidak nyata. Karena, semua pikiran manusia itu produk masa lalu, yang terbentuk melalui rangkai data, informasi, konsep kemudian dibentuk menjadi "semacam" materi tertentu yang kemudian dipatungkan atau diberhalakan. Bentuk baku dari pikiran inilah yang kemudian membentuk diri manusia.
Jika kita merujuk pada Ayat Al-Maidah ayat 3 di atas, seharusnya manusia adalah sosok yang hadir dan diamati dalam kekinian. Bukan manusia masa lalu yang pernah sedih atau manusia masa nanti yang khawatir. Bila manusia hadir dalam kekinian, dipastikan manusia menghadapi setiap persoalan dengan pandangan yang segar, kekinian dan sempurna. Tentu saja hanya dengan batin yang selalu lahir saat ini; dan bukan dengan menggunakan pikiran yang jalannya telah memiliki pola-pola tertentu sebagaimana dijelaskan di atas, dan bahkan seringkali dibentuk dari otoritas, pendidikan, hingga fragmentasi. Tak heran, jika manusia sudah nyaman dengan doktrin-doktrin yang diperoleh dari masa lalunya, menjadikan manusia itu keras, kejam, picik, iri hati, bahkan tak mau mendengar panggilan Allah lantaran merasa sudah berada di zona nyaman.
Menarik disampaikan di sini, Al-Quran menyebut ciri kekasih (wali) Allah adalah sosok yang tidak punya rasa khawatir (khauf) dan rasa sedih (huzn). Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Yunus ayat 62:
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
"Waspadalah, Sesungguhnya Para wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (QS. Yunus: 62-63).
Jika kita rinci ayat di atas, maka ciri wali Allah ada dua, yaitu tidak ada rasa khawatir (khauf) dan tidak ada rasa sedih (huzn). Mari kita renungkan bersama:
Tak ada rasa khawatir (khauf)
Apa itu khawatir atau takut? Rasa khawatir atau ketakutan adalah satu perasaan tidak bahagia atau penderitaan yang dimiliki seseorang karena sesuatu yang akan terjadi atau tidak akan terjadi. Fokus ketidakbahagiaan atau penderitaan ini ada di masa depan. Bisa saja orang khawatir karena ada sesuatu yang akan menimpa dirinya di masa-masa mendatang; atau bisa saja orang khawatir karena sesuatu tidak akan terjadi di masa mendatang. Karena dirinya fokus pada masa datang, maka ia pun lalai pada Kekinian Yang Terbaik - Yang Sempurna. Maka dirinya pun menjadi manusia yang menderita.
Tak ada rasa sedih (huzn)
Apa itu sedih? Sedih atau galau merupakan perasaan tidak bahagia atau penderitaan yang muncul lantaran sesuatu yang sudah terjadi di masa lalu. Entah itu berupa sesuatu yang gagal terjadi, atau sesuatu yang kenapa harus terjadi. Karena terus melihat pada masa lalu, dengan meratapi dan terus menggelayutinya maka dirinya pun luput untuk hadir dalam Kekinian Yang Terbaik - Yang Sempurna. Maka dirinya pun menjadi manusia yang menderita.
Jika kita amati dengan seksama, kedua penderitaan di atas ternyata muncul karena seseorang itu lebih menitik beratkan kepada masa lalu atau masa nanti. Padahal jika dirinya hadir dalam kekinian dengan senantiasa mensyukuri kekinian yang sempurna, maka dirinya tak perlu risau dan repot pada masa nanti atau dirinya tak perlu gundah dan repot karena masa lalu. Itulah kenapa kemudian Syekh Ibnu Athaillah dalam kalam hikmahnya kali ini menyatakan, "Keinginan seseorang agar sesuatu terjadi pada waktu yang Allah tidak Menghendaki pada waktu itu, adalah kebodohan."
Bila kita renungkan lebih dalam, budaya kita ini selalu mengagungkan ambisi dan pencapaian demi pencapaian. Konon, ambisi dikerahkan demi meraih kesuksesan. Karena ambisius, kita pun kemudian mati-matian untuk berjuang meraih sejumlah prestasi yang kita kehendaki. Padahal keinginan untuk menjadi sesuatu yang dikehendaki itu selalu berakhir dalam kekecewaan dan kehampaan. Jelas ini bukan kesadaran dalam menjalani kehidupan. Sikap ambisius dalam menggapai keinginan demi keinginan, ini hanya akan membuat diri ini menjadi pribadi yang selalu merasa tidak puas, tidak bahagia, menderita, dan selalu merasa kurang, kurang dan kurang. Karena tidak menyadari kekinian yang Sempurna, maka kita pun tidak pernah bersyukur! Bahkan bila kita dipenuhi dengan ambisi duniawi, dipastikan kita akan selalu dikuasai rasa iri dan keinginan demi keinginan yang tak pernah terpuaskan.
Bagi yang pernah nonton Film Kung Fu Panda, mungkin ingat saat Ogway menasehati Po, si Panda yang saat itu kesal dan bingung di dekat pohon persik. Katanya, “Yesterday is history. Tommorrow is a mystery. Today is a gift. That's why it's called the present.” Pepatah ini sebenarnya tidak asing bagi telinga kita. Bila kita terjemahkan dalam bahasa sederhana, kira-kira, “Kemarin hanyalah kenangan. Esok hari masih misteri. Hari ini adalah suatu anugrah.” Pepatah ini, sekali lagi juga tengah mengingatkan kita untuk "ngeh" kepada kekinian, saat ini, hari ini, al-yauma, sebagai Anugerah Allah Yang Sempurna.
Sampai di sini al-Faqir teringat sosok Wali yang ketika ditanya seseorang tentang kekhawatiran yang terjadi atau tidak terjadi di masa datang, sekaligus ketika ditanya seseorang tentang kegundahan peristiwa di masa lalu. Ia selalu menjawab dengan ungkapan kekinian, tanpa khawatir tanpa kesedihan;
yaitu: Gitu Aja Kok Repot!
Wallahua'lam
Kuncen | UmahSuwung
@abdullahwong
Home
»
»Unlabelled
» Al-hikam Ibnu Ath-Thoillah, Terlalu Bodoh
Jumat, 16 November 2018
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
BERSYUKURLAH KEPADA SUAMI karena ALLOH,,,,,,,,,,,,,,,,
o0o_بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم_ oOo BAHAGIA itu,,, sangat SEDERHANA (31) oOo السلام عليكم ورحمة الله وبركاته oO...
0 komentar:
Posting Komentar