Minggu, 11 November 2018

US.11/11/18

*اللهُم  َّصلِّ  علٰى  سَيِّدنا  مُحَمّدٍ  عبدِكَ  وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ*

                 🅐🅛 🅗🅘🅚🅐🅜

*KETERLALUAN*

كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ الَّذِي أَظْهَرَ كُلَّ شَيءٍ!
Bagaimana mungkin dibayangkan, sesuatu dapat menghijab Allah, padahal Dia-lah yang Menampakkan segala sesuatu?

كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ بِكُلِّ شَيءٍ!
Bagaimana mungkin dibayangkan, sesuatu dapat menghijab Allah, padahal Dia-lah yang tampak ada pada segala sesuatu?

كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ في كُلِّ شَيءٍ!
Bagaimana mungkin dibayangkan, sesuatu dapat menghijab Allah, padahal Dia-lah yang terlihat dalam segala sesuatu

كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ لِكُلِّ شَيءٍ!
Bagaimana mungkin dibayangkan, sesuatu dapat menghijab Allah, padahal Dia-lah yang maha tampak atas segala sesuatu?

كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ الظّاهِرُ قَبْلَ وُجودِ كُلِّ شَيءٍ!
Bagaimana mungkin dibayangkan, sesuatu dapat menghijab Allah, padahal Dia-lah Yang Mahaada sebelum adanya segala sesuatu?

كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ أَظْهَرُ مِنْ كُلِّ شَيءٍ!

Bagaimana mungkin dibayangkan, sesuatu dapat menghijab Allah, padahal Dia lebih jelas dari segala sesuatu itu sendiri?

كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ الواحِدُ الَّذِي لَيْسَ مَعَهُ شَيءٌ!
Bagaimana mungkin dibayangkan, sesuatu dapat menghijab Allah, padahal Dia adalah Yang Mahaesa yang tidak ada bersama-Nya sesuatu apapun?

كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ أَقْرَبُ إلَيْكَ مِنْ كُلِّ شَيءٍ!

Bagaimana mungkin dibayangkan, sesuatu dapat menghijab Allah, padahal Dia lebih dekat kepadamu dari segala sesuatu itu sendiri?

وكَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَلولاهُ ما كانَ وُجودُ كُلِّ شَيءٍ!

Bagaimana mungkin dibayangkan, sesuatu dapat menghijab Allah, padahal sementara apabila tidak ada Dia, niscaya tidak akan ada segala sesuatu itu?

يا عَجَباً كَيْفَ يَظْهَرُ الوُجودُ في العَدَمِ!    أَمْ كَيْفَ يَثْبُتُ الحادِثُ مَعَ مَنْ لَهُ وَصْفُ القِدَمِ!

Sungguh terlalu mengherankan! Bagaimana mungkin Keberadaan sesuatu yang Pasti Ada kok bisa terhalang sesuatu yang ‘tidak ada’? Atau, bagaimana bisa sesuatu yang baru (al-hadits) dapat bersama dengan Zat yang memiliki sifat Qidam (tidak berpermulaan)?

*PEMBAHASAN*
Dalam pembahasan kali ini, Syekh Athoillah seperti gregetan. Gregetan kepada siapa pun yang punya asumsi bahwa Allah dapat dihijabi oleh apa dan siapa pun. Dari kalam hikmah yang ada dalam Kitab Al-Hikam, untuk kali ini Sykeh Ibnu Athoillah begitu _intens_ dan sangat serius mewanti-wanti setiap pejalan. Melalui sepuluh pertanyaan sekaligus jawaban yang diajukan, Syekh Ibnu Athoillah seperti mengepung segala asumsi kita dari berbagai penjuru. Dari mana pun asumsi itu muncul, seakan langsung dibantah oleh Syekh Ibnu Athaillah. Pertanyaannya kini, kenapa sampai Syekh Ibnu Athaillah mengingatkan kita melalui 10 pertanyaan tersebut?

Pada pembahasan sebelumnya dinyatakan bahwa mustahil Allah yang Maha Mutlak dapat dihijab atau ditutupi oleh sesuatu apapun. Jika ada yang menghijab Allah, maka sama saja Allah menjadi terbatas; yakni dibatasi atau ditutupi oleh yang menghijabi itu. Sesungguhnya yang terjadi, Allah begitu Mutlak sehingga mustahil terhijab oleh selain Allah. Kalau pun menurut manusia Allah terhijab (tidak diketahui), yang sejatinya adalah hal itu sebagai bukti betapa Allah Maha Perkasa. Dengan demikian, setiap pejalan yang kemudian "Ma'rifat" mengenal Allah, lalu dirinya disingkapkan, maka tidak lain hal adalah karena Allah Berkenan Membukakan diri-Nya dengan Memberi Kesempatan kepada hamba-Nya yang dikehendaki-Nya. Dalam turunannya, Kesempatan Allah itu diberikan kepada hamba berupa laku istiqomah dalam melangkah pulang kepada-Nya. Semoga kita termasuk golongan yang diberikan Anugerah Indah itu dari-Nya.

Ketika seorang hamba mendalami ilmu agama, satu kekeliruan yang besar jika ilmu agama yang didalami itu adalah satu jalan atau cara untuk dapat mengenal Allah. Ketika seorang berasumsi bahwa satu pengetahuan tertentu dapat digunakan untuk mengetahui Allah, maka pengetahuan tersebut lebih agung dan lebih akbar dari Allah. Allah secara Mutlak (Absolut) mustahil dapat didekati, dipahami, dijelaskan, apalagi dikuasai. Karena apapun yang dapat menguasai Allah itu artinya lebih kuasa dari Allah. Maka, sudah sepatutnya, pengetahun apapun yang kita cari, adalah tahapan-tahapan tertentu untuk memendam ego kita. Itu pun atas Perkenan dan Kuasa Allah.

“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” dijelaskan, bahwa Allah menyebut dzat-Nya sebagai AL-AWAL." (Al-Hadid: 3)

“Katakanlah: "Siapakah Tuhan langit dan bumi?" Jawabnya: "Allah". Katakanlah: "Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?". Katakanlah: "Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?" Katakanlah: "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa". (Ar-Ra’d: 16)

Keberadaan Allah itu Al-Qodim. Ada-Nya Allah itu Ada sebelum segala apapun ada, bahkan sebelum kata atau gagasan ada itu ada. Bahkan, Allah Sungguh telah Ada, sebelum segala apapun ada dan tidak ada. Maka, jika kemudian muncul berbagai macam ada sekaligus tidak ada, semua itu huduts alias baru. Ketika semua itu baru, maka sangat mustahil jika yang baru itu dapat menutupi yang justru mengadakan semua yang baru itu. Untuk itu Hujjatul Islam, Imam Ghazali menjelaskan bahwa seorang hamba itu dalam tahapan pengabdian kepada Allah itu melewati 3 tahapan penting:

1. *Ta'abud*, yakni kegiatan apapun yang dilakukan manusia yang orientasinya adalah untuk melakukan persembahan, pengabdian, yang tentu saja dilakukan semata-mata hanya karena Allah. Pada tahap ini seorang pejalan diharapkan sudah selesai dengan urusan dosa-dosa besar; dan tengah berupaya kerasa menghindari dosa-dosa kecil;

2. *Taqarub*, yakni kegiatan apapun yang dilakukan pejalan yang sudah tidak punya lagi keinginan apapun selain mendekatkan diri kepada Allah. Meski dirinya sadar Hanya Allah yang Mendekati hamba, tapi si pejalan ini senantiasa berharap untuk senantiasa dekat dengan Allah. Maka demi mendekati Allah secara serius, segala apapun yang tidak pantas melekat pada dirinya dilepas-lepaskan. Pejalan yang berada pada tingkatan ini meski hidup dalam dunia, tapi hatinya tidak melekat dengan dunia.

3. *Tahaquq*, inilah derajat tertinggi bagi seorang pejalan. Yakni satu wilayah dimana seorang arif billah, apapun yang dilakukan, diterima, disadari hanyalah al-Haq semata. Boro-boro akan mengeluh atas apa-apa yang menimpa dirinya, menganggap sesuatu tak punya manfaatkan pun tak mungkin muncul dalam benaknya; karena semuanya adalah _al-Haqqu min robbihim_.

Dalam pembahasan kali ini, al-faqir hanya akan menampilkan kesepuluh pertanyaaan Syekh Ibnu Athaillah begitu saja. Al-Faqir tidak akan memberikan catatan-catatan pada setiap pertanyaan. Karena bagi al-Faqir, pertanyaan itu bukan untuk dijawab secara aqliyah semata, tapi mesti direnungkan secara mendalam. Berikut sepuluh pertanyaan itu:

1. Bagaimana mungkin dibayangkan, sesuatu dapat menghijab Allah, padahal Dia-lah yang Menampakkan segala sesuatu?

2. Bagaimana mungkin dibayangkan, sesuatu dapat menghijab Allah, padahal Dia-lah yang tampak ada pada segala sesuatu?

3. Bagaimana mungkin dibayangkan, sesuatu dapat menghijab Allah, padahal Dia-lah   yang terlihat dalam segala sesuatu?

4. Bagaimana mungkin dibayangkan, sesuatu dapat menghijab Allah, padahal Dia-lah yang maha tampak atas segala sesuatu?

5. Bagaimana mungkin dibayangkan, sesuatu dapat menghijab Allah, padahal Dia-lah Yang Mahaada sebelum adanya segala sesuatu?

6. Bagaimana mungkin dibayangkan, sesuatu dapat menghijab Allah, padahal Dia lebih jelas dari segala sesuatu itu sendiri?

7. Bagaimana mungkin dibayangkan, sesuatu dapat menghijab Allah, padahal Dia adalah Yang Mahaesa yang tidak ada bersama-Nya sesuatu apapun?

8. Bagaimana mungkin dibayangkan, sesuatu dapat menghijab Allah, padahal Dia lebih dekat kepadamu dari segala sesuatu itu sendiri?

9. Bagaimana mungkin dibayangkan, sesuatu dapat menghijab Allah, padahal sementara apabila tidak ada Dia, niscaya tidak akan ada segala sesuatu itu?

10. *Sungguh sangat terlalu mengherankan!* Bagaimana mungkin Keberadaan sesuatu yang Pasti Ada kok bisa terhalang sesuatu yang ‘tidak ada’? Atau, bagaimana bisa sesuatu yang baru (al-hadits) dapat bersama dengan Zat yang Qodim (tidak bermula)?

Semoga Allah Memahamkan kita semua, Amin
Wallahua'lam

Kuncen | UmahSuwung
@abdullahwong

0 komentar:

Posting Komentar

BERSYUKURLAH KEPADA SUAMI karena ALLOH,,,,,,,,,,,,,,,,

 o0o_بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم_ oOo BAHAGIA itu,,, sangat SEDERHANA (31) oOo السلام عليكم ورحمة الله وبركاته oO...