US.9/10/18
*اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ*
🅐🅛 🅗🅘🅚🅐🅜
*JANABAH HATI*
كَيْفَ يُشْرِقُ قَلْبٌ؛ صُوَرُ الأَكْوانِ مُنْطَبِعَةٌ في مِرْآتهِ؟
Bagaimana hati kan bersinar, sementara lukisan duniawi masih terlukis di cermin hati?
أَمْ كَيْفَ يَرْحَلُ إلى اللهِ وَهُوَ مُكَبَّلٌ بِشَهْواتِهِ؟
Atau bagaimana hati berangkat kepada Allah, sementara hati masih terbelenggu syahwat?
أَمْ كَيْفَ يَطمَعُ أنْ يَدْخُلَ حَضْرَةَ اللهِ وَهُوَ لَمْ يَتَطَهَرْ مِنْ جَنابِةِ غَفْلاتِهِ؟
Atau bagaimana seorang dikatan begitu menggebu masuk dalam hadirat Allah, sementara hati belum suci dari junub kelalaian?
أَمْ كَيْفَ يَرْجو أَنْ يَفْهَمَ دَقائِقَ الأَسْرارِ وَهُوَ لَمْ يَتُبْ مِنْ هَفْواتِهِ؟
Atau bagaimana seorang dikatakan sangat berharap memahami kedalaman rahasia-rahasia, sementara ia belum bertaubat dari kesalahannya?
*PEMBAHASAN*
Pada prinsipnya, manusia tersusun dari dua asas pokok, yang dengan keduanya, entitas kemanusiaan menjadi sempurna; yaitu hati dan akal. Dua instrumen ini merupakan komponen vital yang diberikan kepada manusia dan yang menjadikan manusia berbeda dari makhluk yang lain. Akal menjadi pusat muncul dan berkembangnya ilmu pengetahuan, peradaban dan kebudayaan. Sedangkan hati menjadi pusat utama akan berkembangnya kepekaan perasaan dan emosional. Oleh karena itu, jika akal dan hati seorang hamba harmoni, maka inilah yang dimaksud sebagai karakter khalifah di bumi.
Jika dipetakan, seakan fungsi utama akal adalah piranti untuk "mengerti, memahami dan menyadari aspek makna kehidupan". Sedangkan hati adalah wahana yang berkaitan dengan sisi emosi manusia yang dapat mendorong rasa cinta, ta'dzim, rasa benci dan sifat-sifat lain. Atas dasar itu, jika kita berhadapan dengan sesuatu yang sesuai dengan keinginan kita sendiri maka otomatis akan tumbuh rasa suka bahkan cinta di hati kita terhadap sesuatu tersebut. Tapi jika kita bersinggungan dengan sesuatu yang tak sesuai dengan keinginan kita, maka langsung tumbuh rasa tidak suka, menghindar bahkan benci. Pertanyaannya, piranti manakah yang mestinya lebih tepat dalam menghadapi atau menerima kenyataan?
Masing-masing piranti ini tentu punya peran dan tugasnya masing-masing. Sebagaimana peralatan yang digunakan seorang tukang kayu, ia akan tahu kapan menggunakan martil, kapan pula menggunakan gergaji. Saat tukang kayu hendak memotong maka alat yang digunakan adalah gergaji. Untuk gergaji pun tidak bisa sembarangan. Menggergaji kayu atau besi tentu berbeda. Memotong dan membelah juga beda alat yang digunakan. Tentu dibutuhkan kecerdasan dan kesiapan seorang tukang kayu dalam menggunakan setiap alat-alat yang dimiliki. Ketika seorang tukang kayu menggunakan alatnya secara tepat, dalam khazanah kita disebut 'adil; tapi ketika seorang tukang kayu tidak menggunakan alatnya secara tepat, dalam khazanah kita disebut dzolim. Karena secara prinsip, yang disebut dzolim adalah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya.
Begitu juga kedudukan akal dan hati. Untuk hal tertentu, cukup akal yang digunakan. Ini persis ketika seorang yang sholat dalam posisi *berdiri*. Tubuh orang yang sholat itu tegak. Kepalanya di atas yang memberi makna bahwa penggunaan akal sangat penting. Posisi ini adalah posisi *Jihad* atau berjuang. Dalam jihad atau perjuangan, seseorang harus menggunakan akalnya secara intensif. Seperti bekerja atau melakukan kegiatan keseharian. Tapi meski jihad yang dilambangkan dengan berdiri, dimana kepala atau akal berada di atas, semua mesti dimulai dengan takbir alias Keagungan Allah. Maka tak ada ruang sedikit pun bagi kita untuk sombong. Apalagi ketika berdiri dalam shalat, salah satu rukun shalat yang wajib ditegaskan adalah membaca Surat Al-Fatihah. Ini artinya, akal cerdas dan kuat sekalipun mesti mendapat penyokong nilai-nilai Al-Quran.
Kemudian ketika ruku'. Ruku' adalah posisi ketika kepala (symbol akal) dan dada (symbol hati) terlihat sejajar. Masing-masing harus saling mengisi. Inilah peristiwa *ijtihad*. Dalam berijtihad, penggunaan akal dan hati mesti seimbang. Bahkan seorang hakim ketika memberikan hukum tak boleh dalam keadaan lapar atau marah; karena dapat memengaruhi akalnya. Apalagi ketika seorang sedang berijtihad, yakni melakukan upaya jihad di wilayah pemikiran dan perenungan. Hati mesti mentertai. Satu hal yang menarik, ketika ijtihad berlangsung dimana akal dan hati seimbang, kedua tangan kita menjadi penyokong yang dikokohkan oleh kedua kaki. Persis seperti hamparan meja yang ditopang oleh kaki-kakinya. Kedua tangan yang menopang ini adalah lambang keseimbangan. Tidak boleh ada campur tangan kepentingan atau kekuasaan. Saat itu kedua tangan kita berfungsi sebagai siku-siku yang menopang hamparan kepala dan dada. Dan kedua kaki kita berfungsi sebagai tiang yang tak boleh goyah meski kepala dan dada dalam keadaan rata ke depan. Betapa peristiwa ijitihad mesti ditopang keseimbang. Ditopang oleh kedua tangan yang adil dan seimbang tanpa kepentingan, ditopang oleh kedua kaki yang sarat pengalaman dan perjalanan.
Sementara *sujud* adalah peristiwa ketika kepala yang melambangkan akal dibenamkan di permukaan tanah sementara dada yang melambangkan hati berkedudukan lebih tinggi dari kepala. Inilah momentum *mujahadah.* Sebuah perjuangan jiwa dalam menyerahkan diri kepada Allah secara total. Tujuh bagian penting dalam tubuh ditempatkan dalam posisi menyerah pasrah. Secara bentuk, sujud memerlihatkan bagaimana tubuh manusia taka da artinya. Ketika seorang tengah sujud, ia bukan hanya menyerahkan tubuhnya terutama lehernya seperti seorang yang hendak dipancung, tapi juga akalnya. Sadari saja ketika sujud, kedua pandangan kita menjadi sangat terbatas. Pandangan kita hanyalah apa yang ada di depan mata. Berbeda ketika mata digunakan saat berdiri atau ruku. Pandangan mata kita masih dapat melihat keluasan. Tapi ketika sujud, pandangan mata kita menjadi sangat terbatas. Kenapa? Karena pandangan indrawi sudah tak penting. Begitu juga pandangan akal. Karena saat perjuangan ruhaniah (mujahadah), kesadaran yang mesti diunggulkan adalah hati. Bukan apapun! Itulah kenapa peristiwa sujud oleh Syekh Akbar disebut sebagai peristiwa Baqo' atau kelanggengan.
Pertanyaan kita kemudian, mengapa dalam *mujahadah* kedudukan hati menjadi begitu penting? Tentu saja karena Qalbu adalah lokus Allah. _Qolbun Mu'min Baitullah_, bahwa Hati seorang yang percaya (tanpa keraguan) adalah Rumah Allah. Di dalamnya memungkinkan *bashiroh* atau mata qalbu dapat melihat rahasia-rahasia yang selama ini Allah sembunyikan. Ketika mata qalbu seorang mu'min terbuka, tentu ia menapaki hidup dan kehidupnya dengan penuh kesungguhan, keyakinan, tanpa keraguan, bahkan hatinya makin memancar kepada pihak lain dalam menyadari kebenaran.
Dari pengantar di atas, diharapkan kita dapat masuk ke dalam empat pesan Syekh Ibnu Athaillah yang disajikan dalam bentuk pertanyaan. *Pertama*, _Bagaimana hati bersinar, sementara lukisan duniawi masih terlukis jelas di cermin hati?_ *Kedua*, _Atau bagaimana hati berangkat kepada Allah, sementara hati masih terbelenggu syahwat?_ *Ketiga*, _Atau bagaimana seorang dikatan begitu menggebu masuk dalam hadirat Allah, sementara hati belum suci dari junub kelalaian?_ dan *Keempat*, _Atau bagaimana seorang dikatakan sangat berharap memahami kedalaman rahasia-rahasia, sementara ia belum bertaubat dari kesalahannya?_
*Pertanyaan Pertama*
كَيْفَ يُشْرِقُ قَلْبٌ؛ صُوَرُ الأَكْوانِ مُنْطَبِعَةٌ في مِرْآتهِ؟
_Bagaimana hati kan bersinar, sementara lukisan duniawi masih terlukis di cermin hati?_
Jika hati adalah rumah Allah, tentu saja harus Suci. Suci dari segala apapun yang selain Allah. Karena apa dan siapa pun yang selain Allah hanya akan menjadi sampah bahkan berhala bagi manusia. Ketika sebuah hadits menyebutkan bahwa "Rumah yang berisi gambar atau lukisan tidak akan didatangi Malaikat Rahmat," tentu mengandung maksud bukan rumah dan gambar secara lahiriah. Rumah yang dimaksud di sini adalah hati kita, dan gambar-gambar yang dimaksud adalah dunia. Sebagaimana dalam peristiwa Fathul-Makkah, Ka'bah dibebaskan dari semua jenis berhala. Ini melambangkan bahwa hati seorang mu'min sebagai Baitullah sudah seharusnya dibersihkan dari segala macam berhala-berhala hati. Berhala itu bisa bernama harta, anak, kekuasaan, jabatan, popularitas, kepentingan, hingga kepentingan diri sendiri.
Selama berhala-berhala dunia masih bersemayam di hati, maka hati tak dapat memantulkan Cahaya-Nya dengan jelas sebagaimana cermin kusam yang tak dapat memantulkan cahaya. Padahal, Cahaya-Nya setiap waktu masuk ke dalam hati seorang mu'min sebagai penguatan sekaligus pengantar kesadaran sang hamba. Tapi karena cermin hati begitu kotor penuh berhala dan sampah maka Cahaya-Nya tak dapat masuk dengan jelas.
Seorang Mursyid pernah berkata, "Qalb laksana cermin, yang memantulkan apa yang dihadapi dan diinginkannya. Cermin ini tertarik pada apa-apa yang diinginkannya dan menolak apa-apa yang ingin dihindarinya. Bila qalb yang ikhlas menghadap pada Nur Ilahi, maka ia memantulkan kebenaran yang mendalam, namun bila qalb menghadap pada dunia yang penuh perubahan dan perselisihan, maka ia akan memantulkan kepalsuan."
*Pertanyaan Kedua*
أَمْ كَيْفَ يَرْحَلُ إلى اللهِ وَهُوَ مُكَبَّلٌ بِشَهْواتِهِ؟
_Atau bagaimana hati berangkat kepada Allah, sementara hati masih terbelenggu syahwat?_
Dalam pertanyaan kedua ini Syekh Ibnu Athaillah sedang memberikan peringatan. Bahwa Spiritual (Rihlah Ruhaniah) adalah perjalan sebagaimana perjalanan material yang membutuhkan bekal. Ketika perjalan fisik, manusia memerlukan bekal sebanyak-banyaknya, justru perjalanan ruhaniah tak butuh bekal apapun. Syahwat apapun yang masih membelenggu hati justru akan menjadi penghalang sebuah perjalanan. Bahkan oleh Syekh Atho hal demikian mendapat kritik tajam, "Bagaimana disebut berangkat ke Allah jika masih dibelenggu oleh syahwat?"
Seorang ulama berkata, "Qalb tidak bisa tercerahkan oleh penglihatan batin spiritual, jika ia tertutup dan ternoda oleh cinta-dunia, nafsu dan keinginan. Untuk itu, Qalb harus dipersembahkan semata-mata hanya untuk tujuan awal, yakni Allahu Ahad."
*Benarkah perjalanan ruhaniah tak butuh bekal? Lalu bagaimana dengan amalan yang selama ini diselenggarakan. Bukankah semua itu adalah perintah Allah?*
Benar, Allah memang memerintahkan sejumlah amal atau laku, sikap dan niat, tapi pertanyaannya untuk apa semua itu diselenggarakan? Selama amal ibadah yang kita selenggarakan kita asumsikan sebagai alasan kita diterima Allah, maka kita mundur pada pembahasan Al-Hikam yang paling awal tentang *I'timad*, yakni sikap bersandar kepada amal. Jika amal yang diselenggarakan kita asumsikan bahwa kita sendiri diri yang mampu menyelenggarakan amal, maka kita mundur lagi pada pembahasan *warid.* Tak ada amal apapun yang dikehendaki Allah untuk kita kecuali diselenggarakan dengan ikhlas. Mustahil Ikhlas jika di dalamnya tak ada tauhid. Dan mustahil tauhid jika masih ada syirik dalam amal. Di akhir Surat Al-Kahfi, Allah sangat tegas memberikan peringatan tentang larangan peribadatan yang di dalamnya berlangsung kemusyrikan.
*Apa sejatinya kemusyrikan itu?* _Kemusyrikan adalah apa dan siapa pun selain Allah yang membuat hati kita tertambat, terbelenggu dan melekat._
*Apa di antara yang melekat itu?* _Di antaranya adalah syahwat_
*Apakah syahwat berlangsung dalam kemaksiatan saja?* _Tidak! Dalam ibadah pun bisa berlangsung syahwat._
*Bagaimana mungkin dalam ibadah berlangsung syahwat? Bukankah ibadah itu dilakukan karena perintah?* _Jika benar karena perintah, mengapa kita masih menambahkan harapan bahwa ibadah yang kita lakukan dapat menjadi sebab terjadinya ini dan itu. Perintah adalah perintah. Logika apa yang menganjurkan diri kita bahwa karena kita melaksanakan perintah lalu kita punya hak untuk meminta ini dan itu kepada Allah? Jangan-jangan kita ibadah lantaran ada kepentingan sendiri?! Jika itu berlangsung, bukankah itu bernama syahwat?!_
*Pertanyaan Ketiga*
أَمْ كَيْفَ يَطمَعُ أنْ يَدْخُلَ حَضْرَةَ اللهِ وَهُوَ لَمْ يَتَطَهَرْ مِنْ جَنابِةِ غَفْلاتِهِ؟
_Atau bagaimana seorang dikatan begitu menggebu masuk dalam hadirat Allah, sementara hati belum suci dari junub kelalaian?_
Di dalam pertanyaan ketiga ini Syekh Ibnu Athaillah semakin mempertanyakan kesungguhan kita dalam kesediaan berjalan menuju Allah. Bahwa bagaimana mungkin hati merasa sedang melakukan perjalanan kepada Allah jika si hati masih junub dan lalai kepada Allah. Bagaimana hati junub? Apakah hati dapat melakuan hadats besar?
Jika hati yang dimaksud adalah _Lubb, Fu'ad,_ hingga _Sirr_, bahkan _Akhfa_, atau _Sirrul asrar_ tentu saja tak ada kelalaian di dalamnya. Hati dalam wilayah tersebut begitu suci dan murni. Tak ada anasir apapun di dalamnya. Tak ada motif apapun di dalamnya. Itulah kenapa siapa pun yang dilahirkan di muka bumi ini terlahir dalam keadaan suci. Artinya, suci hatinya yang tidak terisi oleh keakuan apalagi oleh keduniawian. Tapi karena si hati terlupa, dan terus menjalani kehidupan, lambat laun semakin jauh dan menjauh dari Sang Sumber yang Maha Suci. Hal ini disebabkan si diri mulai bangkit dan merasa layak untuk menepuk dada dan mengaku "Inilah aku!" Hati yang kemudian itulah kemudian yang disebut hati yang lalai. Yakni hati dalam lapisan nafs atau kedirian yang tak mau tunduk.
*Jika di dalam Fiqih kita mengenal Thaharah yang membahas janabah atau peristiwa hadats besar yang mewajibkan kita mandi, bagaimana peristiwa janabah di dalam hati berlangsung?*
_Sejak awal hati kita ini suci karena berasa dari Yang Maha Suci. Aku yang Allah titipkan kepada setiap manusia sudah seharusnya tunduk dan patuh hanya kepada Allah. Tapi dalam praktik, si aku malah tampil sendiri bahkan menutupi (meng-cover) Kuasa-Nya. Ketika seorang hamba Sadar (dzikir) akan Allah maka terjalin ikatan dengan Allah. Itulah kesucian. Tapi ketika manusia lepas dari kesadaran (dzikir) alias lupa (ghoflah) akan Allah, maka ia pun menjadi tidak suci alias najis._
Perlu diingat, Al-Ghuslu (Mandi) secara bahasa adalah kata yang tersusun dari tiga huruf yaitu ghain, sin dan lam untuk menunjukkan sucinya sesuatu dan bersihnya. {Silakan cek Kitab Mu'jam Maqayis Al-Lughoh 4/424}
Sementara Al-Ghuslu secara istilah adalah menyiram air ke seluruh badan dengan cara yang khusus atau menenggelamkan diri kedalam air. Keterangan ini dapat kita temukan dalam Ar-Raudh Al-Murbi' 1/26, Mu'jam Lughatul-Fuqaha`: 331, Ta’liqot Arradhiyyah Al-Albany.
Sedangkan kata Janabah sebdiri secara bahasa bermakna _Al-Bu'du_, yang artinya jauh. Sebagaimana Firman Allah, "Maka ia (saudara perempuan Nabi Musa) melihatnya dari junub (jauh) sedangkan mereka tidak mengetahuinya". (Al-Qoshash: 11)
*Lalu dalam aturan Fiqih sendiri, siapakah yang diwajibkan mandi janabah?*
Fiqih mengatur bahwa mandi wajib disyariatkan ketika:
1. Keluarnya mani dengan syahwat;
2. Bertemunya dua kemaluan (meski tidak keluar mani);
3. Ketika berhentinya darah haidh dan nifas;
4. Ketika orang kafir masuk Islam;
5. Karena kematian;
6. Ketika orang gila baru saja sadar;
Beberapa hal di atas disebut sebagai peristiwa janabah. Dan itulah yang menyebabkan kita wajib mandi.
وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا
“Dan jika kamu junub maka mandilah.” (Al Maidah: 6)
Jika kita amati, selain sebagai perintah syariat fiqhiyyah, masing-masing peristiwa yang menyebabkan janabah adalah peristiwa yang sangat nikmat dan menyenangkan pada manusia. Memang ada apa dengan peristiwa yang nikmat dan menyenangkan? Peristiwa yang nikmat dan menyenangkan itu memungkinkan seorang hamba menjadi lupa atau lalai kepada Allah. Akibat lupa kepada Allah inilah yang menyebabkan kita janabah alias berhadas besar. Dari sini kita bisa membayangkan, jika seorang begitu asyik dan nikmat kepada dunia, jabatan, harta, atau apapun, sehingga menjadikan dirinya lupa, maka sebenarnya saat itu diri kita pun najis karena menyandang hadats besar. Dengan kata lain, keterikatan hati kita kepada selain Allah inilah yang menjadikan janabah!
Mari kita amati ayat berikut:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu dekati shalat, (1) sementara kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan; (2) sementara kamu dalam keadaan junub, meski sekedar berlalu saja sampai kamu mandi.” (QS. An Nisa’: 43)
Ayat di atas mungkin hanya dipahami dalam konteks seorang yang mabuk minuman atau narkoba. Junub di atas juga mungkin hanya dipahami sebagai junub karena tindakan atau kejadian fisik semata. Padahal ayat itu dengan jelas mengatakan jangan coba-coba untuk "nyambung" kepada Allah, sementara kita masih mabuk dan masih janabah. Penyabab mabuk tentu saja sangat banyak. Tak selalu disebabkan oleh arak, khamr, atau narkoba. Justru banyak sekali manusia yang mabuk jabatan, mabuk harta, mabuk pangkat, sanjungan dan sebagainya. Ketika diri kita ini mabuk dunia, sebenarnya kita dalam keadaan janabah. Dan ketika janabah kita jangan sok merasa nyambung (sholat) dengan Allah.
*Pertanyaan Keempat*
أَمْ كَيْفَ يَرْجو أَنْ يَفْهَمَ دَقائِقَ الأَسْرارِ وَهُوَ لَمْ يَتُبْ مِنْ هَفْواتِهِ؟
_Atau bagaimana seorang dikatakan sangat berharap memahami kedalaman rahasia-rahasia, sementara ia belum bertaubat dari kesalahannya?_
Pada pertanyaan keempat ini, Syekh Atho mempertanyakan kepada siapa pun yang merasa sedang melakukan perjalanan ruhaniah tapi hatinya masih saja enggan bertaubat dari kesalahan. Dalam pertanyaan ini, sejumlah diksi baru diajukan oleh Syekh Athoillah. Di antaranya adalah:
1. Daqaiq al-Asrar
2. Hafwatih
Dalam perjalanan Ruhaniah, di antara hidangan yang Allah Tebarkan kepada para pejalan adalah Daqaiq al-Asrar. Secara bahasa bisa diartikan sebagai kedalaman rahasia-rahasia, kerumitan segala rahasia, kompleksitas segala rahasia, atau bagian-bagian paling subtil dari aneka rahasia Allah. Hidangan itu sejatinya setiap waktu dihamparkan. Tapi tak semua hamba dapat memahami kehadiran hidangan itu. Maka, ketika seorang pejalan dapat diberi kesempatan memahami kedalaman rahasia-rahasia Ruhaniah, merupakan suatu hal yang luar biasa. Maka tak heran jika seorang pejalan punya harapan untuk mendapatkan anugerah itu dari Allah.
Tapi oleh Syekh Athoillah harapan mendapatkan anugerah itu dianggap isapan jempol belaka ketika hati si pejalan masih dipenuhi kesalahan.
Di sini, Syekh Athoillah tidak menyebutnya dengan:
وَهُوَ لَمْ يَتُبْ مِنْ ذَنْبٍ / ذُنُوْبِهِ
(hati belum bertobat dari dosa / dosa-dosanya)
tapi
وَهُوَ لَمْ يَتُبْ مِنْ هَفْواتِهِ
(hati belum bertobat dari kesalahan-kesalahannya)
*Apa perbedaan Dzanbun (Dzunub) dengan Hafwat (Hawatif)*
Dzanbun (ذَنْب) atau dosa adalah segala kesalahan yang masih bersifat kemaksiatan atau pembangkangan dari perintah-perintah Allah. Baik mengabaikan perintah atau masih menjalani larangan Allah. Artinya, bagi Syekh Ibnu Athaillah, pejalan Ruhani itu sudah dianggap selesai untuk urusan dosa yang berkaitan dengan pembangkangan kepada Allah. Maka Syekh Ibnu Athaillah lebih dalam lagi memilih diksi yang digunakan, yakni Hafwat yang jamaknya adalah Hawatif.
Dalam istilah bahasa, Hatif atau Hawatif adalah "suara yang terdengar tanpa ada yang melihatnya." ( الصَّوتُ يُسمَع دون أَن يُرى شخصُ الصائ). Itulah kenapa Hatif menjadi bahasa Arab dari Telepon. Karena dianggap suara yang tidak ada sosok yang melihat. Sementara di kalangan pelaku ilmu perdukunan, Hatif atau Hawatif sering disebut sebagai *Bisikan Jin* Karena banyaknya bisikan jin inilah maka seseorang konon harus dirukyah. Semua itu adalah istilah bahasa dan istilah dunia rukyah.
Dalam khazanah tasawuf, Hatif atau Hawatif punya makna yang berbeda. Insya Allah, pada pembahasan-pembahasan selanjutnya kita akan menemukan Syekh Ibnu Athaillah menjelaskan dengan gamblang makna Hawatif. Hatif adalah kesalahan yang berupa bisikan-bisikan asumsi. Bisikan asumsi ini sangat tipis kehadirannya. Misalnya, seorang yang rajin bangun malam dan menyelenggarakan tahajjud. Dalam hatinya tiba-tiba terbersit bahwa dirinya adalah hamba yang sholeh, bahwa dirinya adalah hamba yang paling taat di kampungnya. Bisikan ini hampir tidak dapat disadari sebagai bisikan. Sejatinya, itu semua adalah bisikan dari si aku.
Tentu saja hamba yang mendapat bisikian keakuan ini memang sudah mulai melakukan perjalanan. Dirinya sudah bertobat dari dosa-dosa besar. Dirinya sudah mulai menjalani semua kewajiban. Dirinya sudah mulai menjalani Sunnah-sunnah Rasul. Bahkan dirinya sudah mulai memperdalam tirakat dan suluk begitu rupa. Tapi, tanpa sadar bisikan (Hatif) muncul pada dirinya. Dirinya pun lalai, bahwa itu semua hanya bisikan ilusi yang justru makin memupuk dan meneguhkan egonya sendiri.
"Ah, aku sudah mulai rajin puasa Senin – Kamis."
"Alhamdulillah, saya begitu tenang dan makin dekat dengan Allah karena tahajjud dan Al-Quran yang selama ini saya baca."
"Alhamdulillah, saya dapat menjalankan ibadah haji untuk kesekian kali."
"Rasanya sekarang saya ini wali."
Bisikan-bisikan halus yang mengapresiasi kesalihan dan pencapaian kita seakan sesuatu yang suci. Padahal semua itu hanyalah bisikan dari keakuan kita sendiri. Di sini, Syekh Athoillah menyebutnya dengan Hafwatih. Kelak, Syekh Ibnu Athoillah akan mengenalkan istilah hawatif al haqiqah, atau bisikan kebenaran. Dalam kalimatnya, Syekh Ibnu Athaillah berujar, “Seorang pejalan (salik) dalam mencari kebenaran senantiasa terus melangkah tanpa lelah. Dirinya tidak mungkin mau berhenti meski begitu banyak hal tersingkap untuk dirinya. Kecuali hawatif al haqiqah (suara hakikatnya) segera memberikan peringatan kepada si pejalan." Insya Allah kita akan sampai pada pembahasan tersebut.
***
Demikian. Semoga paparan Kuncen mendapat pertolongan Allah. Dan kita semua senantiasa mendapatkan Cahaya-Nya. Akhirnya, dalam Bahasa sederhana, keempat pertanyaan di atas, terangkum dalam pertanyaan berikut:
*"Bagaimana hati seorang hamba kan bersinar terang, bila gambar dunia dalam cermin hatin begitu gamblang? Bagaimana diri serius melangkah kepada Allah, bila hati masih terbelenggu syahwat? Bagaimana diri dapat masuk pusaran Allah, bila hati masih junub dari kelalaian? Dan bagaimana si pejalan serius berharap memahami aneka rahasia ruhaniah, jika hati belum taubat dari bisikan yang menipu diri sendiri?"*
Wallahua'lam
***
Wassalamualaikum wr.wb
Kuncen | UmahSuwung
@abdullahwong
0 komentar:
Posting Komentar