US.18/8/18
*اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ*
🅐🅛 🅗🅘🅚🅐🅜
*JAWABAN YANG TERTUNDA*
لاَ يَــكُنْ تَــأَخُّرُ أَ مَدِ الْعَطَاءِ مَعَ اْلإِلْـحَـاحِ فيِ الدُّعَاءِ مُوْجِـبَاً لِـيَأْسِكَ؛ فَـهُـوَ ضَمِنَ لَـكَ اْلإِجَـابَـةَ فِيمَا يَـخْتَارُهُ لَـكَ لاَ فِيمَا تَـختَارُ لِـنَفْسِكَ؛ وَفيِ الْـوَقْتِ الَّـذِيْ يُرِ يـْدُ لاَ فيِ الْـوَقْتِ الَّذِي تُرِ يدُ
"Jangan lantaran terjadi keterlambatan pemberian-Nya kepadamu, sementara engkau telah sungguh-sungguh dalam berdoa, menjadikan dirimu putus asa; Allah telah menjamin ijabah bagimu dalam hal yang Dia Pilih untukmu, bukan dalam sesuatu yang engkau pilih sendiri untuk dirimu; begitu dalam waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau kehendaki."
***
*Pembahasan*
Pembasan sebelumnya Syekh Ibnu Athaillah mengingatkan kita tentang kebiasaan memburu mati-matian kepada sesuatu yang sudah dijamin Allah, tapi malah bermalas-malasan terhadap apa yang diperintahkan Allah. Sikap demikian oleh Syekh Ibn Athaillah disebut sebagai mata hati yang buta. Kali ini, Syekh Atjo melanjutkan pembahasan mengenai sikap dan etika dalam berdoa.
Di dalam kitab ini, sebenarnya pembahasan tentang doa cukup banyak tersebar di sejumlah Kalam hikmah berikutnya. Dan pembahasan kali ini adalah pembahasan tentang doa kali pertama di dalam kitab Al-Hikam.
Bicara doa, tentu kita maklum jika doa merupakan salah satu dari perintah Allah terhadap hamba Allah. Doa menjadi bukti kelemahan sekaligus ketidakberdayaan Hamba kepada Allah.
Doa secara bahasa memang artinya meminta. Sedangkan kata doa sendiri secara generik bahasa bermakna memanggil. Jadi, ketika orang menyebut Nama Allah, sebenarnya dirinya sudah memanggil sekaligus memohon.
Dalam al-Fatihah, kita menemukan Iyyaka Nastain. Kalimat ini beriringan setelah Iyyaka Na'budu. Sehingga secara utuh kalimatnya adalah Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'inu, yang artinya *Hanya kepada Engkau Semata kami mengabdi, dan Hanya kepada Engkau Semata kami bermohon.*
Sebenarnya, untuk ayat di atas sering terjadi pergeseran makna. Yakni dalam satu ayat itu difungsikan secara sendiri-sendiri: 1. Hanya Kepada Allah Mengbadi, 2. Hanya kepada Allah Meminta.
Dengan Iyyaka (إياك) maka terjadi takhsis. Yakni hanya kepada. Jika redaksi yang digunakan adalah na'buduka (نعبدك) maka yang ditakhsis atau diistimewakan adalah kitanya yang mengbadi. Begitu juga dalam اياك نستعين , yang digunakan bukanlah نستعينك. Karena bukan kita yang diutamakan, tapi Allah dalam takhsis إياك.
Pertanyaannya kemudian, setelah hanya mengabdi kepada Allah, lalu hanya memohon atau minta kepada Allah, lalu apa yang kita minta? Di sinilah pergeseran makna terjadi. Mestinya, karena diksi meminta ini ada dalam satu ayat yang bermula dengan ungkapan mengabdi, maka makna batin dari ayat ini adalah *HANYA KEPADA ENGKAU KAMI MENGABDI DAN HANYA KEPADA ENGKAU KAMI MOHON PERTOLONGAN DALAM PENGABDIAN*
Itulah kenapa ayat berikutnya adalah اهدنا الصراط المستقيم, yang dalam hal ini bermakna
اهدنا
*BERILAH KAMI PETUNJUK
الصراط
*KESEMPATAN, PELUANG, MOMEN
المستقيم
*UNTUK SENANTIASA ISTIQOMAH dalam IYYAKA NA'BUDU WA IYYAKA NASTA'INU
Tapi yang terjadi, dalam permohonan, kita ini selalu mengisinya dengan proposal dan aneka harapan dan keinginan yang berakar pada kepentingan diri sendiri.
*
Jika kita maklum bahwa Kitab Al-Hikam ini ditujukan kepada hamba yang makin serius kembali menuju kepada Allah, maka Syekh Ibnu Athaillah mengandaikan doa yang ia maksud adalah doa dalam pengertian mendapatkan kemudahan dalam mengabdi kepada Allah.
Tapi sebelum ke arah sana, kita akan mulai dulu kecenderungan doa secara umum, yakni meminta kepada Allah. Ekspresi doa itu terbagi dalam tiga tampilan.
1. Doa bil lisan
2. Doa bi bil af'al
3. Doa bil Isyaroh
1. Doa Lisan
Inilah doa yang selama ini digunakan kita pada umumnya. Doa ini diucapkan dengan lisan. Pilihan redaksi doa Lisan juga banyak ragamnya. Tentu saja, doa Lisan ini menggunakan bahasa sebagai medianya.
2. Doa Af'al
Doa disampaikan dalam aksi atau aktivitas. Meski seorang tidak melafalkan kata-kata yang berisi doa, setiap kerja manusia pada hakikatnya berisi doa atau harapan. Seorang yang sedang mencangkul misalnya, ia pasti ada harapan atas apa yang sedang dilakukan. Begitu juga ketika bekerja, berkarya, dan sebagainya.
3. Doa Isyaroh
Bentuk doa ketiga ini berupa simbol-simbol atau tanda-tanda. Secara bentuk mungkin terlihat bukan doa, tapi secara makna sesungguhnya menjadi simbol dari harapan atau doa-doa. Misalnya orang yang menggunakan helm untuk kepala saat mengendarai motor. Secara hakikat, keselamatan memang Kuasa Allah, tapi manusia secara simbolik manusia mengekspresikan harapan keselamatan itu dengan helm. Doa simbol atau lambang juga muncul dalam tradisi atau budaya kita. Contoh doa simbol itu banyak ragamnya. Mulai dari pagar rumah, kunci pintu, sabuk pengaman, hingga tali pengekang binatang. Untuk contoh terakhir pasti kita ingat bagaimana Nabi menegur salah satu sahabat yang membiarkan unta tanpa diikat dengan asumsi dirinya telah tawakal. Rasul menegur agar sahabat mengikat dulu binatangnya baru ia serahkan kepada Allah. Mengikat binatang saat itu adalah doa.
Dan tentu saja, dari ketiga ekspresi doa di atas, yang melambarinya adalah hati.
Sebenarnya doa itu sendiri adalah bentuk dari ibadah. Artinya, jika doa ditempatkan sebagai kesediaan menjalankan perintah Allah, maka Doa sungguh telah dikembalikan kepada posisinya. Beda lagi jika doa ditempatkan sebagai cara kita menuntut Allah.
Dalam Al-Quran, Allah memerintahkan kepada kita untuk berdoa kepada-Nya.
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ
Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku Jawab bagimu.” Al-Mu’min: 60
**
Setelah kita menyusuri kedudukan dan makna doa, kita lanjutkan kepada pembahasan Syekh Ibnu Athaillah.
Seorang mukmin sejati pasti sangat yakin dengan apa yang ada di Tangan Allah daripada apa pun yang dapat diusahakan oleh tangannya sendiri.
Ketika doa yang kita panjatkan dianggap tidak direspon oleh Allah Ta’ala, kadang di situ mesti merenung. Doa di sini bukan hanya terkait masalah duniawi; tapi juga dalam hal perjalanan spiritual kit. Misalkan, kita berdoa agar diterima taubatnya dan dibersihkan dari segala dosa. Kita berdoa agar diberikan kekuatan dan istiqamah. Doa diberikan khusyuk dalam sholat dan zikir. Doa diberikan nikmatnya tahajjud, puasa, hingga silaturahmi. Begitu seterusnya.
Sesungguhnya, setiap doa yang kita panjatakan merupakan refleksi dari objek yang telah Allah siapkan. Mustahil kita menghendaki sesuatu di dalam hati, kecuali sesuatu itu sudah ada objeknya. Tanpa objek yang telah Allah sediakan, pada dasarnya setiap orang tidak akan punya keinginan untuk berdoa. Sebagaimana saat kita ingin makanan, ini karena ada aroma yang sudah tercium dari jauh.
Tapi kebanyakan, manusia sering terjebak waham (salah persepsi) dan tidak sabar mengamati dirinya sendiri. Seperti ketika seorang sahabat meminta kepada Rasulullah SAW agar berjodoh dengan seorang perempuan; maka jawaban Rasulullah SAW adalah: sekalipun dirinya dan seluruh malaikat memanjatkan doa maka bila itu bukan haknya dan tidak tertulis di Lauh Mahfudz pasti tidak akan terlaksana. Keinginannya untuk memiliki jodoh adalah sebuah isyarat akan objek yang telah Allah sediakan, tetapi keinginannya tentang perempuan tertentu adalah syahwat dan waham sendiri yang masih belum surut.
Maka, dalam berdoa pun membutuhkan ma’rifah Allah yang dimulai dari memahami diri sendiri. Peecayalah, Allah yang lebih tahu apa yang terbaik bagi makhluknya, lebih dari seorang ibu mengetahui kebutuhan bayinya.
Allah telah berjanji Bahwa Allah pasti Menjawab setiap doa (panggilan). Hal ini sesuai dengan firman-Nya, “Mintalah kamu semua kepada-Ku, Aku pasti Menjawab do’amu semua."
Sementara, Allah juga berfirman, "Tuhanmulah yang menjadikan segala yang dikehendaki-Nya dan memilihnya sendiri, tidak ada hak bagi mereka untuk memilih."
Sebaiknya seorang hamba yang tidak mengetahui apa yang akan terjadi mengakui kebodohan dirinya, sehingga ia tidak memilih sesuatu yang tampak bagi dirinya terkesan baik, padahal ia tidak mengetahui bagaimana akibatnya.
Karena itu bila Allah yang maha Mengetahui, maha Bijaksana Memilihkan untuknya sesuatu, hendaknya rela dan menerima pilihan Tuhan yang Maha pengasih, Maha mengetahui dan Maha bijaksana.
Secara lahir mungkin terasa pahit dan pedih, tapi itulah yang terbaik baginya, karena itu bila berdoa, kemudian belum juga terkabul, jangan sampai langsung berputus asa.
Dalam Al-Qur'an juga Allah Berfirman, "Dan bisa jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." al-Baqarah ayat 216.
Dalam surat Yunus ayat 89 juga disebutkan, ''Sungguh telah diterima do’amu berdua [Musa dan Harun alaihissalam] yaitu tentang kebinasaan Fir'aun dan tentaranya, maka hendaklah kamu berdua tetap istiqamah sabar dalam melanjutkan perjuangan dan terus berdo’a, dan jangan mengikuti jejak orang-orang yang tidak mengerti." Yunus ayat 89.
Menurut Syeikh Abul Hasan asy-Syadzily, ketika mengartikan ayat tadi, bahwa terlaksananya kekalahan Fir'aun (diterima do’a Nabi Musa dan Harun) setelah 40 tahun lamanya.
Rasulullah bersabda: "Pasti dikabulkan do’amu selama tidak terburu-buru serta mengatakan, dan tidak berkata aku telah berdo’a tapi tidak diterima."
Anas rodhiallohu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak ada orang berdoa, melainkan pasti diterima Allah doanya, atau dihindarkan dari padanya bahaya, atau diampuni sebagian dosanya, selama ia tidak berdoa untuk sesuatu yang hina atau untuk memutuskan silaturrahim.
Syekh Abu Abbas al-Mursi, guru Syekh Ibnu Athaillah, ketika ia sakit datang seorang sahabat menjenguk dan berkata: "Semoga Allah menyembuhkanmu (yu'aafika). Abu Abbas hanya diam dan tidak menjawab. Kemudian sahabatnya berkata lagi: Allah yu'aafika. Akhirnya Abu Abbas berkata, "Apakah kamu kira diriku tidak memohon kesehatan kepada Allah? Sungguh aku telah memohon kesehatan dan penderitaanku saat ini termasuk kesehatan dariNya. Apakah engkau lupa Rasulullah memohon kesehatan dan ia berkata: "Bekas makanan khaibar itu terasa olehku, dan kini masa putusnya urat jantungku.''
Abu Bakar as-Siddiq juga memohon kesehatan meski meninggal terkena racun. Umar bin Khottob memohon kesehatan dan meninggal dalam keadaan terbunuh. Usman bin Affan memohon kesehatan dan juga meninggal dalam keadaan terbunuh. Ali bin Abi Tholib memohon kesehatan dan juga meninggal dalam keadaan terbunuh. Maka bila engkau memohon kesehatan kepada Allah, mohonlah menurut apa yang telah ditentukan oleh Allah untukmu.
Maka, sebaik-baik seorang hamba ialah yang bersedia menyerahkan segalanya menurut apa Mau Allah, menurut apa Kehendak Allah sekaligus meyakini bahwa apa yang diberikan Allah kepadanya, adalah yang terbaik meski tidak sesuai dengan nafsu syahwat si hamba.
Dan ingatlah, syarat utama doa diterima ialah dalam keadaan yang sangat terpaksa, sangat sulit dan darurat. Jika masih belum darurat, maka nikmatilah anugerahNya.
Allah subhanahu wata'ala berfirman: "Bukankah Dia yang mengabulkan orang yang dalam kesulitan apabila dia berdo’a kepada-Nya..." [an-Naml 62]
Kita amati jiwa kita. Ketika kita merengek berdoa minta kaya, misalnya, apakah itu darurat? Sangat mendesak? Tahukah apa itu darurat? Ketika hal itu tidak diberikan maka kita akan mati! Itulah darurat. Kembali amati doa kita, mana yang darurat bagi kita: doa mohon Khusnul khatimah atau dia minta kaya raya?
Sekali lagi kita baca pesan Syekh Ibnu Athaillah dalam Kalam Hikmah kali ini:
لاَ يَــكُنْ تَــأَخُّرُ أَ مَدِ الْعَطَاءِ مَعَ اْلإِلْـحَـاحِ فيِ الدُّعَاءِ مُوْجِـبَاً لِـيَأْسِكَ؛ فَـهُـوَ ضَمِنَ لَـكَ اْلإِجَـابَـةَ فِيمَا يَـخْتَارُهُ لَـكَ لاَ فِيمَا تَـختَارُ لِـنَفْسِكَ؛ وَفيِ الْـوَقْتِ الَّـذِيْ يُرِ يـْدُ لاَ فيِ الْـوَقْتِ الَّذِي تُرِ يدُ
"Jangan lantaran terjadi keterlambatan pemberian-Nya kepadamu, sementara engkau telah sungguh-sungguh dalam berdoa, menjadikan dirimu putus asa; Allah telah menjamin ijabah bagimu dalam hal yang Dia Pilih untukmu, bukan dalam sesuatu yang engkau pilih sendiri untuk dirimu; begitu pula dalam waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau kehendaki."
Saudara seperjalanan,,,
Sebenarnya, saat hamba berdoa dalam pengertian memanggil, seketika itu juga Allah Menjawab. Apa jawaban Allah? Kesempatan dari Allah kepada kita untuk menyebut Namanya tidak lain adalah adalah Perkenan Allah. Itulah Jawaban Allah.
Demikian, semoga kita senantiasa mendapat pertolongan Allah berupa istiqomah dalam mengabdi kepada-Nya.
***
Wallahua'lam
UmahSuwung
@abdullahwong
0 komentar:
Posting Komentar