Rabu, 15 Maret 2017

Ashabul A’raf (Qs. Al A’raf 46-48)
Oleh: Itsnan Wahyudi. SPdI

Orang-Orang yang Timbangan Kebaikan dan Keburukannya Seimbang (Sama)

ﻭَﺑَﻴْﻨَﻬُﻤَﺎ ﺣِﺠَﺎﺏٌ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺍﻷﻋْﺮَﺍﻑِ ﺭِﺟَﺎﻝٌ ﻳَﻌْﺮِﻓُﻮﻥَ ﻛُﻼ ﺑِﺴِﻴﻤَﺎﻫُﻢْ ﻭَﻧَﺎﺩَﻭْﺍ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﺃَﻥْ ﺳَﻼﻡٌ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻟَﻢْ ﻳَﺪْﺧُﻠُﻮﻫَﺎ ﻭَﻫُﻢْ ﻳَﻄْﻤَﻌُﻮﻥَ . ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺻُﺮِﻓَﺖْ ﺃَﺑْﺼَﺎﺭُﻫُﻢْ ﺗِﻠْﻘَﺎﺀَ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻻ ﺗَﺠْﻌَﻠْﻨَﺎ ﻣَﻊَ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡِ ﺍﻟﻈَّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ . ﻭَﻧَﺎﺩَﻯ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏُ ﺍﻟْﺄَﻋْﺮَﺍﻑِ ﺭِﺟَﺎﻟًﺎ ﻳَﻌْﺮِﻓُﻮﻧَﻬُﻢْ ﺑِﺴِﻴﻤَﺎﻫُﻢْ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻣَﺎ ﺃَﻏْﻨَﻰ ﻋَﻨْﻜُﻢْ ﺟَﻤْﻌُﻜُﻢْ ﻭَﻣَﺎ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﺴْﺘَﻜْﺒِﺮُﻭﻥَ.
 
“Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A’raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. dan mereka menyeru penduduk surga: “Salaamun ‘alaikum [Mudah-mudahan Allah melimpahkan kesejahteraan atas kalian]”. mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya). Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu. Dan orang-orang yang di atas A’raaf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan: “Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu.” (QS. Al A’raf 46-48)
 
Pada hari kiamat nanti manusia semuanya akan dihitung amalnya. Setelah penghitungan amal selesai, diberikan kepada setiap orang catatan dari amal perbuatan mereka itu. Bagi orang yang amal kebaikannya lebih banyak dari keburukannya maka tempat kembalinya adalah surga. Sebaliknya, orang yang amal keburukannya lebih banyak dari amal kebaikannya maka tempat kembalinya adalah neraka. Lalu bagaimana dengan orang yang antara amal kebaikan dan keburukan yang ia lakukan seimbang? Apakah mereka yang disebut dengan ashabul a’raf ? Siapakah ashabul a’raf sebenarnya? Apakah ada tempat ketiga setelah surga dan neraka?
 
Pengertian Al A’raf
A’raf adalah jama’ dari urf yang artinya pagar yang tinggi yang diletakkan antara penduduk surga dan penduduk neraka. Adapun secara bahasa makna urf yaitu tempat yang tinggi. (Fathul Qadir, Juz III hal 39)
Ibnu Jarir berkata bahwa yang dimaksud disini adalah dinding sebagaimana yang disebutkan oleh Allah dalam firman Allah,

ﻓَﻀُﺮِﺏَ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﺑِﺴُﻮﺭٍ ﻟَﻪُ ﺑَﺎﺏٌ ﺑَﺎﻃِﻨُﻪُ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﺔُ ﻭَﻇَﺎﻫِﺮُﻩُ ﻣِﻦْ ﻗِﺒَﻠِﻪِ ﺍﻟْﻌَﺬَﺍﺏُ
“Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa”. (Qs. Al Hadid 13)
 
Mujahid berkata : “Yang dimaksud a’raf adalah pembatas antara surga dan neraka.”
Ibnu Abbas berkata : “Ia adalah sebuah pagar “.
As-Sudi berkata : “Dinamakan a’raf karena penghuninya mengetahui keadaan manusia (yang ada di surga dan di neraka).” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/119)
 
Siapakah Ashabul A’raf ?
Jumhur Ulama mengatakan bahwa ashabul a’raf adalah dari Bani Adam semuanya. Namun Muqatil berkata bahwa ini khusus ummat Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam . Wallahu A’lam.
Adapun jika melihat berdasarkan amalan yang mereka perbuat maka dalam hal ini ada beberapa pendapat diantaranya:
 
1. Kaum yang mati berperang di jalan Allah dalam keadaan bermaksiat kepada orang tuanya. Maksiatnya kepada orang tua menjadikan ia terhalang dari surga, jihadnya di jalan Allah menjadikan ia terhalang untuk memasuki neraka. Pendapat ini dikuatkan dengan sebuah riwayat dari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam . (HR. Tabrani, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini adalah hadits munkar (lihat As-Silsilah Ad-Da’ifah- Mukhtasharah 6/ 292, no 2791)

2.Kaum yang mana antara kebaikan dan keburukan yang mereka lakukan seimbang, kebaikan mereka tidak bisa menjadikan mereka sampai kesurga, sementara keburukan mereka tidak bisa menjadikan mereka sampai keneraka. Ini adalah pendapat yang dikemukakan oleh Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Huzaifah Asy-Sya’bi dan Qatadah.
 
3.Anak zina. Ini adalah diriwayatkan dari Shalih maula At-Tuamah dari Ibnu Abbas.
 
4.Kaum yang shalih, yang ahli ilmu fiqih dan ulama, keberadaan mereka di sana adalah dalam rangka menghibur diri mereka saja. Ini adalah diriwayatkan dari Al-Hasan dan Mujahid.
 
5.Kaum yang mana ayah mereka meridhai sementara ibunya tidak, begitu juga sebaliknya. Ini adalah diriwayatkan oleh Abdul Wahab bin Mujahid dari Ibrahim.
 
6.Orang yang mati pada zaman fatroh (zaman kekosongan Nabi). Dan mereka tetap dalam agama mereka, ini diriwayatkan dari Abdul Aziz bin Yahya
 
7.Para Nabi, pendapat ini diriwayat dari Ibnu Al-Anbari.
 
8.Anak orang-orang musyrik, ini disebutkan oleh Al-Manjufi dalam tafsirnya.
 
9.Kaum yang beramal karena Allah tetapi mereka riya dalam amalnya. (Zadul Masiir, juz 2/484)
 
10.Suatu kaum yang melakukan dosa kecil, akan tetapi dosa itu tidak terhapus dengan sakit dan musibah ketika mereka di dunia. Dan mereka juga tidak melakukan dosa-dosa besar. Maka dosa-dosa kecil itu menghalangi mereka untuk masuk surga.
 
11.Para malaikat yang bertugas memilah-milah siapa yang mu`min dan yang kafir sebelum mereka dimasukkan kedalam surga atau neraka. Namun pendapat ini perlu diteliti karena yang disebutkan dalam ayat Al-Quran adalah seorang laki-laki Ar Rijal. (Tafsir Al-Qurtubi, 7/212)

sumber : wa grup Daarulfikri

0 komentar:

Posting Komentar

BERSYUKURLAH KEPADA SUAMI karena ALLOH,,,,,,,,,,,,,,,,

 o0o_بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم_ oOo BAHAGIA itu,,, sangat SEDERHANA (31) oOo السلام عليكم ورحمة الله وبركاته oO...